Cinta yang cerdas mempersyaratkan prinsip : pertama, proporsional, meletakkan cinta pada tempat yang semestinya; kedua, mengorientasikan perspektif permasalahan tidak melulu pada diri sendiri, tetapi juga kepada perspektif dan perasaan oranglain yang terlibat bersamanya
Oleh karena itu, Anda boleh jatuh cinta, tetapi jangan sampai menghukum dan menghabisi masa depan Anda. Jatuh cinta yang direkomendasikan adalah jatuh cinta yang penuh dengan kehati-hatian, bukan cinta pragmatis yang berorientasi pada keuntungan sesaat. Hati-hati terhadap segala kemungkinan. Hitunglah segala resiko agar tidak terperoseok ke dalam masalah masalah sekunder yang menyita perhatian. Jika telah memperhitungkan secara matang segenap resiko yang mungkin menghadang, kita akan terhindar dari bahaya cinta yang lebih parah.
Cinta yang cerdas bukanlah cinta yang kontraproduktif
Beberapa hal yang boleh dicatat :
1. Belajar mencintai dengan sederhana. Pada saat hubungan cinta mengalami permasalahan cinta yang sederhana akan menghasilkan kebencian yang sederhana pula.
2. Jika siap mencintai, maka bersiap juga untuk disakiti
3. Sebelum saling menyakiti, belajarlah terlebih dahulu untuk salaing memafkan
4. Cinta sejati adalah cinta yang sejati selalu ingin memberi dan mengabdi, tanpa peduli apakah bisa mendapatkan sesuatu atau keuntungan dari cinta dan ketulusan yang telah diberikannya.
5. Semua orang pasti akan mengalami siklus jatuh cinta. Karena itu, jangan terlalu ekstra protektif tehadap diri sendiri pada saat jatuh cinta.
6. Patah hati, dikecewakan, dan gagal dalam cinta adalah siklus biasa yang lazin dialami setiap orang.
7. Boleh menangis ketika sedang patah hati, tetapi menangislah dengan cerdas, sekedar melegakan hati. Jika terlalu berlebihan hingga bermalam-malam menagis, maka akan merugikan diri sendiri, Sayang kalau harus sakit keras karena cinta
8. Mencintai itu tidak sama dengan berdagang
Delapan hal tersebut kiranya dapat Anda mulai sebagai entry point untuk membangun konsep cinta yang cerdas. Pada suatu titik nanti, Anda akan mampu melepaskan diri dari ikatan yang berlebihan kepada cinta makhluk untuk kemudian masuk kedalam konsep cinta yang tidak sekedar bergantung kepada obyek siapa yang akan dicintai, melainkan lebih luas lagi kepada kerja cinta itu sendiri. Tugas untuk mencintai siapa saja yang membutuhkan cinta.
Menjadikan diri sebagai salah satu orang yang hidupnya diabdikan untuk mencintai siapa saja. Hidup dengan cinta dalam kehidupan orang lain, untuk membantu, memberi dan berbagi. Cinta seperti ini akan melahirkan kreativitas yang luar biasa bagi sesama.
( Dikutip dari : Menuju Kecerdasan Cinta, Iip Wijayanto, 2004, hal 82 86 )
Azmi gak bosen baca buku ini, khususnya bagian azmi tuliskan kutipannya. Banyak obat yang bisa azmi ambil dari situ dan azmi gunakan untuk mengobati lara hati dalam beberapa episode perjalan hidup.
Sering juga azmi kaitkan dengan beberapa perjalanan hidup dan pilihan teman2 yang azmi kenal. Misalnya pippi, yang kerap kali di jatuh cintai dan memilih untuk menolak atau meluruskan kecintaan itu dengan banyak pertimbangan. Atau pilihannya untuk mensublimasikan cintanya kepada cubes secara utuh, melepaskan kecintaan kepada cubes dan memfokuskan diri untuk melakoni kerja cinta itu sendiri. Mencintai siapapun dengan sama besarnya, sama tulusnya.
Seorang pippi juga bukanlah manusia yang tidak pernah jatuh cinta, tapi azmi telah melihat betapa dia berupaya untuk menghitung semua kemungkinannya.
Azmi sendiri, sebagai insan biasa yang juga mengalami siklus kehidupan dan fase-fase cinta : 1-Tergetar 2-Jatuh Cinta 3-Jadian 4-Konflik 5-Memilih ( Iip Wijayanto, 2004 : 103). Azmi terkadang jatuh bangun dalam menata hati dan perasaan. Ada yang baru sampai pada fase 1, lalu dilerai agar tak sampai pada tahap 2, ada yang sampai pada fase 2 tapi tak berani untuk ke fase ke-3.
Dihalaman selajutnya Iip bilang, bahwa momen yang paling monumental adalah proses jadian yakni saat ketika setelah dengan segala keberanian kita berusaha mengutarakan cinta kita mendapat respon positif dari orang yang kita cintai. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Apakah setelah jadian masalah menjadi selesai? Tunggu dulu. Pada saat baru jadian masalah ketakutan akan cinta tak berbalas memang sudah tidak lagi menjadi masalah. Penasaran, rasa ingin tahu, ego untuk memiliki, dan hasrat lainnya terpenuhi saat itu. Beberapa saat setelah jadian akan dimuali fase penyesuaian. Selama fase ini konflik dan badai masalah akan datang silih berganti, adaptasi psikis, tempramen, hati, kebiasaan-kebiasaan dll. Dan semua itu membutuhkan energi ekstra dan kemampuan menata, manajemen konflik dengan sebaik-baiknya!
Pada fase ini, hanya orang-orang yang emosinya cerdaslah yang dapat melampaui setiap rangkaian persoalan dengan baik. Mereka yang emosinya cerdas tidak akan mengambil keputusan dramatis dalam keadaan emosional, tidak bosan berlatih mengalah dan berlapang dada, berupaya mengelola ego, melihat setiap permasalahan tidak hanya dari sudut pandang atau perspektif sendiri, hemat dengan kosakata makian, cacian dan sebagainya.
Apakah hanya kecerdasa emosi yang dibutuhkan ? Tidak Juga. Jangan pernah melupakan kecerdasan cinta. Kecerdasan cinta akan melahirkan ketulusan, kesungguhan, prinsip, kejujuran, dan keinginan untuk selalu memberi, dan yang paling utama adalah spirit Cinta .
Cinta yang bersungguh-sungguh akan sangat membantu menyelesaikan rangkaian permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan kecerdasan emosi dan intelegensi.
( Sebuah rangkaian tulisan dan nasehat untuk diri azmi sendiri )
|
|