Home
Miscellaneous
Your Minds and Thoughts
Programme
Latest News
Brainstorming Discussion Forum
References
Discussion Program
Webs and Mailing Lists Info
Problems Inventory
From the Mind of Azmi Rhenisha
Novels
Common Stories
Story of the Months Collection
Arie Dandaraga
Stories from TATA
Naomi's Corner
About Naomi or Maru
Story of Kesunyian Hati Sita
Story To Love You To No End
In the Minds of Naomi
Funny Stories from Naomi
Naomi n Dhrea Proverbs bulary
Poems of Naomi Latief
Poems For Rere
Poems of Naomi Latief 2004
Poems for Icha Maesa
Poems and Poetry
From the Thoughtful JINGGA
Cute Arie
The Management
Brief History
Management Structure
About NaomiOnline
Poems and Poetry
Lesbians' space for presenting the masterpieces of poems and poetry
Visitors:
00308
Tuhanku,
Telah kau selipkan kegelisahan ini dari waktu ke waktu,
Perkelahian bathin yang tiada pernah berhenti,
Aku bersimpuh di hadapan MU, dalam kedukaan tersedu,
Atas hampa dan ketiadaberdayaan hidup bagai meregang maut dlm genggaman hati,
Mengapa rindu dan cinta berbaur begitu pekat,
Hingga tiada lagi celah aku bersembunyi dalam gulita kebencian,
Terpenjara mimpi yang selalu hadir dalam tidur dan terjagaku terus mengikat,
ENGKAU Maha Mengetahui, ketika jiwaku begitu lemah kelelahan,
Inikah kutukan MU, ya Tuhan,
Mencintai seorang yang tidak patut aku cintai,
Dan Riuh Rendah nya harapan serta keinginan menetap pada hasrat keabadian,
KAU tetap mentakdirkan aku melanjutkan perjuangan yang tiada pernah selesai,
Aku bersimpuh kepada MU, Ya Gusti,
Berdoa, dan mengakui takdir yang kau anugerahkan kepadaKU,
Segala apa pun yang Engkau ingin aku emban hingga jasad menuai mati,
Tak kan pernah pula aku berhenti memohon sebuah restu.
April 7, 2004
TERPASUNG
Ketika kaki memaksa mengayun tiada henti,
Sementara hati dan batin lelah dan penat tak terkira,
Akankah kutemui dirimu merentang tangan menyambutku dalam pelukan ?
Ketika sayap terkepak meraih awan,
Tinggi melayang membelah cakrawala,
Tidakkah kau rasakan betapa hati sunyi dan terluka tiada berperi ?
Mengalir bersama air tanpa dirimu menemani,
Mengarungi samudera luas dalam gelung ombak membahana,
Bilakah kudapati engkau pada dermaga impian ?
Menuai harapan atas benih yang telah engkau taburkan,
Tumbuh menjadi belukar taman impian yang telah menjadi belantara,
hingga ketika kepekatan gulita me-makam-kanku dlm kesunyian abadi,
Akankah doamu dalam kedamaian kan merawatku dalam kebisuan hati ?
menemuiku barang sekejap meski hanya dalam pelupuk mata ?
Memberiku sentuhan keindahan yang selalu kau persembahkan ?
Aku menunggumu dalam setiap kelana waktu berputaran,
Dalam setiap desah nafas tercipta mengukir namaMu dalam lorong jiwa,
dalam tangisku ketika jiwa berpisah raga tanpa bisa meraihmu kembali,
Tidakkah kau sadari bahwa, Cinta itu tidak pernah juga pergi...
19 April 2004
Untuk Cubes
SERUNI-KU
Seruni,
Betapa kau begitu setia menyapaku setiap waktu,
Dengan telepatimu yang lebih canggih dari padak frekuensi tele-mekanik,
Kau sirami taman hatiku meski tiada lagi bunga bermekaran di taman hatiku,
Hingga rerumputan menghiasi dataran yang tandus kering dalam terik,
Seruni,
Betapa aku memuja keteduhanmu memayungi jiwaku,
Tiada pernah berubah meski waktu dan kehidupan terjalani demikian pelik,
Kasihmu tiada pernah berhenti meski bumi terpisah samudera biru,
Kau tetap saja memelihara singgasanamu dalam hatiku begitu apik,
Seruni,
Kau membuat semua kemustahilan dalam pikirku menjadi sebuah kemungkinan,
Menafikan pemahamanku tentang sesuatu yang fana menjadi sebuah keabadian,
Dalam balutan cinta dan kasih sayangmu terbungkus dengan sebuah kesejatian.
19 April 2004
Untuk Seruni, Silverspring D.C.
MIMPIKU AKAN SEBUAH KEGELAPAN
Gusti,
Dalam senyap kedamaian disetiap malam-malam terlewati,
Mengapa Mimpi ku selalu bercerita tentang hal yang sama ?
Keindahan dan kebahagiaan terbingkai dalam sebuah frame yang gulita
Tiada tepi yang dapat kutemui memberi secercah cahya menerangi
Dalam seluruh senja yang habis aku nikmati,
Selalu saja kutemui Cakrawala dalam wajah berjelaga
Redup dan muram menghiasi saat-saat sunyiku yang penuh duka
Hanya angin berhembus melengang mengiringi senandung hati
Dan juga ketika terik mengejekku tiada berhenti,
Lunglai, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tak bermakna
Lelah, bertahan dalam kegalauan hati dan perihnya luka sebuah derita
Dan mentari pun tak bergeming mendengarkan kidung pilu nyanyian hati
Gusti,
Mengapa kau ciptakan kebahagian dalam gelapnya sebuah mimpi
Sehingga hadirnya keindahan begitu membutakan mata
Meski hati tidak pernah berhenti merajut harapan dari masa ke masa
tetap saja belum juga kau kirimkan nuraniku tentang sebuah arti
Aku me-muja-Mu dalam kalam hati setiap hari,
Pasti saja Kau dengar semua rintihanku sebagai seorang Hamba,
Karena aku yakin bahwa Kau tiada pernah beranjak dari relung jiwa,
Inikah Anugerah MU, Gusti ? Keindahan bersisian denganMU dalam sunyi ?
Duh Gusti,
Kudusnya cinta dan kasih mu tak pernah lagi terpungkiri,
Meski Kau tau, gundahku tak pernah dapat ku-elakkan secara sempurna,
Kau tetap menyapih-Ku dalam Gelap gulita lorong hati tak bercahaya,
Dan restu-Mu hanya akan tetap tertinggal sebagai sebuah mimpi..
April 23, 2004
Kepada Tuhanku
MENGINGATMU, SAHABAT KECILKU
Tiba-tiba saja aku mengingatmu sahabat..
Ketika termenung dalam sebuah ruang kelanaku yang pekat..
Saat indera melihat banyaknya gambaran masa lalu bermain dikepala..
Merunut kealpaan diri jauh ke belakang hari terlampaui tiada sengaja..
Tiba-tiba saja, aku melihat dirimu dalam ketulusan hati yang bercahaya..
Tiba-tiba saja menyadari betapa aku telah membuat hatimu porak poranda..
Terkejut dan gundah, saat dada terasa penuh sesak oleh penyesalan..
Tak kudapati sedikit rasamu tersisa, karena maaf tidak lagi kau perlukan..
Tiba-tiba saja aku mengakui bahwa in KARMA ku, sahabat..
Ketika kau dengan sabar menyatukan kebersamaan kita dalam satu tekad..
Dan kulihat kembali diriku dengan serat-merta menyapihmu penuh aniaya..
Memberikan kebisuan nyata dan diam bagaikan patung, dingin tiada terkira..
Aku pun luruh, menerima sebuah karma..
Karena aku tak kan pernah mampu membalikkan masa..
April 29, 2004
Untuk Seorang Lia..
7 April 2004
Adinda Lievhart,
Aku tiada pernah berhenti memikirkan dirumu
Nafas terurai hanya mengucapkan namamu
Denyut nadi berirama,
Darah yang mengalir,
Hanya memanggil Bathin mu
Aku memujua mu setiap waktu
Bermimpi dan berharap
Tiada pernah berhenti
Bercengkerama dengan luka hati
Yang kau torehkan begitu dalam
Andai saja aku mampu berpaling...
andai saja..
---
Lievhart,
Aku hidup bagaikan robot yang bernyawa,
Rutinitas berjalan begitu datar dan tiada rasa
Achievement, encouragement, spirits tiada pernah lagi hidup
Aku lelah luar biasa, lievhart.
Lelah luar biasa.
Menahan semua kerinduan
dalam keputus-asaan yang begitu mendalam
dalam alur hidup yang begitu membosankan.
Jiwa yang mati terperangkap pada jasad bergerak
Tatapan jiwaku begitu hampa
Hidup tiada lagi berarti
dan terjalani dengan begitu menyesakkan dada
Aku tidak sanggup memikul ini semua
Sejak saat itu,
hanya satu pertanyaan pada Tuhanku,
"Hingga Bila Tuhan membebaskan aku.."
Aku mencintai kamu, lievhart.
Sepenuh hatiku.
24 April 2004
Tuhanku,
Keindahan yang kau anugerahkan begitu menyiksa
Memasungku dalam kegelapan masa
Rindu dan cinta terkunci pada kebisuan yang nyata
Tuhanku,
Tidakkah kau mampu bisikan aku sebuah berita
Tentang secercah sinar yang tiada hadir
pada mata hati yang begitu fana
Tentang warna-warni bianglala melingkari dunia
Tuhanku
Jasadku telah termakamkan rutinitas dengan sempurna
Nafas tercipta mekanis tanpa sebuah rasa
dan detak jantung berlarian tak beraturan arah kelana
Tuhanku,
Lelahku menyergap seketika.
Tiada lagi yang dapat aku lakukan
selain memejamkan mata.
25 April 2004
Adinda,
Mengapa kau begitu keji menyiksa
hadir tiada terduga dan lenyap begitu saja
seakan rasa tak lagi memiliki sebuah makna
Aku terpekur dalam kejutan duka
yang kembali dan kembali kau torehkan luka
yang kerap berganti arah berputar tak berirama
Mengapa kau ciptakan sudut hati dengan derita
yang begitu dalam dan tak bercahaya
Penantian tak berbatas bagai sebuah renjana
Aku mencintaimu Adinda,
Hingga ajal menyapa dipelupuk mata
Hingga aku hidup terlepas dari dunia fana
Hanya untukmu kupersembahkan cintaku yang baka!
27 April 2004
Kebesaran Cintamu
Hatiku melebur dengan hatimu
Menyatu dalam jiwa yang pekat oleh cinta
kumiliki nyawa dalam cintamu melalui angin yang membelaiku
Menemukan senyummu melalui mentari
dan tegur sapamu melalui kicau burung kala pagi
Kuduslah cintamu Adinda,
Memandikan aku malalui air dan
selalu saja hadir dalam setiap nafasku
Cintamu memayungiku adinda,
Melalui awan beriring di langit yang begitu luas
Dan ketika senja menghampiri,
Adalah saat kau membimbingku ke peraduan
Menyenandungkan tembang2 melalui
suara jangkrik menyambut malam
Kita pun terlelap dibawah sinar rembulan.
Domain Lookup
www.
.
com
net
org
us
info
biz
Get
www.yourdomainofchoice.com
for your site with services!
.