Lorong
Oleh : ARie DAndaraga
Dalam lorong itu Rie berjalan sendirian, langkahnya lebar sedikit tergesa. Terkadang Rie paksakan dirinya untuk berlari, tapi selalu kemudian Rie hanya kembali melangkah tergesa. Rie berjalan terus dan terus, sipitkan mata coba pastikan apakah ujung lorong telah terlihat. Seringkali Rie tak melihat apapun, terkadang Rie seperti melihat cahaya kecil tapi tak dapat pastikan seberapa jauh jaraknya. Keringat menetes deras, diiringi nafas yang terhela semakin dalam.
Rie terhenti, sesak didadanya terasa lebih sakit dari biasanya. Satu...Dua...dan semuanya akan baik baik saja.. Rie berujar dalam hati. Ditekannya rasa sakit oleh telapak kiri dan kemudian kembali melangkah, sedikit terseret tapi Rie terus melangkah.
Rasa sakit ini mulai menggangguku, semakin hari kulihat dia makin berani benamkan luka dalam dalam. Sambil terus melangkah, Rie mulai berbicara dengan dirinya sendiri. Seringkali aku coba mengacuhkannya, tak peduli. Dan ketika dia semakin dekati mukaku, terhirup olehku gairah kemenangan dalam hembusan nafasnya.. Rie seka sebutir keringat yang meluncur di lehernya.
Lalu aku mulai berlari, terus berlari lewati masa, waktu, udara yang seharusnya aku lewati dengan tarikan melegakan. Aku mulai tak pedulikan apapun. Orang orang disekitarku melihatku keheranan, seringkali mereka terlihat ingin membantuku. Tapi saat mereka mendekat, kulemparkan sejumput tanah yang menempel di lengan bajuku. Hingga kemudian mereka pergi dengan wajah melecehkan. Aku terus berlari, tak peduli. Rie meletakkan tangan kanan di dadanya, gantikan telapak kirinya yang mulai kebas.
Suatu saat aku tersandung, jatuh dan tergelincir puluhan meter. Hamburkan semua kerikil yang ada di sekitarku. Dan kemudian terhempas tabrak tong sampah di sudut mula lorong ini. Rie hentikan langkahnya tiba tiba, dan dia menggigil, teringat olehnya sesuatu, Aku tahu aku tersandung, tergelincir dan kemudian terhempas. Aku tahu semua itu dari rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhku. Aku tahu aku menabrak tong sampah itu. Aku tahu aku tetap sadar, aku hanya tak tahu kenapa aku tetap sadar. Rie memandang sekeliling dengan perasaan cemas.
Dan akhirnya pandanganku tertumbuk pada lorong kecil itu. Lorong yang tak lebih tinggi dari pintu kamarku yang dihiasi berbagai gambar, pintu yang kucoba membuatnya tampak artistik tapi sejauh ini hanya terlihat sebagai tempelan gambar yang membuat ayahku mendesah panjang saat melewatinya. Lorong itu tak memiliki lampu didalamnya, tapi entah mengapa suasana didalam tetap terlihat walau dalam keremangan yang sepi, seakan akan ketika kau melihat kedalamnya, dinding yang ada memberikan sedikit pedar atas keadaan disekitarnya.
Lorong itu cukup lebar, sebuah becak dapat masuk dengan mudah ke dalamnya. Tapi kuyakin tak ada becak yang mau masuk kedalamnya, ke sebuah lorong yang tak terlihat dimana ujungnya. Dan kutahu aku pun tak akan pernah mencoba masuk ke dalamnya. Tak mau dan tak kan pernah mau, apalagi miliki kemampuan untuk memasukinya . Lalu aku menengadah, kulihat langit biru yang sudah jadi pandangan favoritku sejak tahu bagaimana menggunakan mataku dengan benar. Aku tersenyum dan menutup mata, entah mengapa hatiku terasa damai...
Aku menutup mata dan mengatur nafasku, merasakan kedamaian yang selama ini kucari. Tak kupedulikan tangan ( tangan?) yang menyentuhku perlahan. Mereka pasti segera pergi jika aku tetap tak bergerak, begitu pikirku saat itu. Dan setelah itu semua terjadi begitu cepat, hingga sampai sekarang aku masih bisa mengingat bagaimana rentetan kejadian itu menaikkan adrenalinku begitu cepatnya. Semua tangan tangan itu menyeretku kasar, tiba tiba . tanpa pertanda apa - apa mencengkeram tubuhku, dua, tiga, lebih dari lima pasang tangan . Walaupun ada satu pasang tangan yang dengan lembutnya menutup mataku.
Seakan akan tak mengijinkanku untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum aku benar benar tersadar, sepasang tangan itu berhenti menutup mataku. Lalu semua pasangan tangan itu mulai mengayunku. Dan sebelum aku mulai bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi aku dilemparkan masuk kedalam lorong itu. Aku kembali berguling seperti apa yang baru saja terjadi saat aku menabrak tong sampah itu. Dan akhirnya berhenti ketika menabrak dinding keras yang kulihat mengeluarkan cahaya keremangan itu. Auch!! Sakitnya bener bener merupakan siksaan yang sempurnakan seluruh luka yang timbul sejak awal tadi aku terhempas.
Rie tersentak, kegelepan datang dengan begitu cepat dari belakangnya. Dan insting membuatnya untuk berlari, melewati satu satunya arah yang dapat dilewati. Brengsek!! Apalagi yang lebih buruk dari semua ini.. Rie tak pedulikan lagi sesak didadanya. Rie tak pedulikan lagi keringat yang menetes deras. Insting membawanya untuk berlari dan berlari.
Sesaat Rie seperti melewati lorong yang dipenuhi kabut tipis, sepertinya Rie mendengar suara orang orang yang dicintainya, yang Rie tak pernah tahu apakah mereka benar mencintai dirinya, atau hanya karena mereka tak punya pilihan lain. Sesaat Rie merasakan sentuhan lembut seseorang yang terus dicintainya, bahkan saat kegelapan dingin terasa menyentuh ujung kakinya, Rie masih dapat mengingat jelas sentuhan lembut itu. Namun Rie memaksa dirinya untuk terus berlari, meninggalkan sentuhan lembut itu.
Rie merasakan tubuhnya semakin ringan, dan kehangatan terasa memeluk dirinya. Bahkan kakinya yang tadi terasa dingin kini mulai terasa hangat. Rie tersenyum, ujung lorong telah dilihatnya, penuh cahaya keputihan . Dan dia tahu kebahagiaan yang dicari ada disana. Rie semakin bergegas, berlari dengan kecepatan yang dia pikir tak pernah mampu dapat dicapainya. Rie berlari bagaikan cahaya.
Namun sentuhan lembut itu menahannya, dia menarik Rie dengan tarikan yang makin lama makin kuat. Rie tertarik ke belakang, bergerak kembali ke arah tempat penuh kabut tipis tadi. Sentuhan lembut itu menyentuh lengannya , balurkan kehangatan yang terasa lain. Dan rasa sakit segera timbul didadanya, Rie tarik lengannya lepas dari sentuhan lembut itu. Terkaget dengan apa yang baru saja dirasakannya. Dengan rasa sakit yang sekian lama coba Rie tutupi.
Dan Rie tahu apa rasa sakit itu, dan Rie tahu siapa sentuhan lembut itu. Sesaat Rie terdiam mematung, matanya nanar. Sapukan pandangan kosong ke asal suara suara tadi terdengar. Dan seketika Rie terhentak kuat, wajahnya tertarik menengadah, tatap langit langit lorong dalam sinar keremangan. Rie menutup matanya perlahan kemudian menangis. Yang terlihat kini hanyalah sesosok manusia yang duduk memeluk kakinya sendiri. Menggigil dan menangis sendirian.....
..............................................
(.....Atas Nama Ketakutan
Sebutkan untukku kata itu, sebelum semua ini jadi terlalu
Hentakan itu cukup keras, telingaku berdenging karenanya
Pusaran membekapku makin kasar makin kuat, seisi kepalaku bertalu.
Teriakanku mampukah kau dengar?
Itu suara terakhirku.
Dinding putih makin berhimpit, aku diantara mereka semua.
Langkah langkah tertahan ribuan selaput, tak terlihat pun tetap kurasa gelambirnya..
Sebutkan untukku kata itu, sebelum semua ini jadi terlalu
Saat semua melayang, tamparan itu mendarat amat keras.
Makian tak terdengar lalu aku tersuruk ke muka
Tusukan tanpa rasio hujamkan peluh dengan namaku tertulis.
Terbanglah tinggi lalu hempaskan aku!
Sebelum semua ini benar benar terlalu, aku hanya tinggal nama lalu.
Sebutkan untukku kata itu, sebelum semua ini jadi terlalu!
Sebutkan untukku kata itu, saatnya selamatkan aku.
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga..... )
Saat melewati lorong yang sama..
Bandung, 20 Jun. 04
|
|