BAB VI
Willingly mengalun lembut dari Winamp komputer Sita, Dia termenung dikamarnya, melamun dan berbaring ditempat tidurnya.
Malam ini, Putri akan menjadi milik seseorang, ia akan menjadi milik Handi, Putri memang tidak mampu menentang pernikahan ini, Putri tidak mampu melawan kehendak orang tuanya.
Sita merasakan dadanya begitu sakit, dan kepalanya terasa berat. Ia mencoba meresapi kekuatan cinta Putri dalam lagu Willingly, terakhir mereka melalui malam bersama, saat itu, Sita memang kelelahan, dan bolak-balik jatuh tertidur, lagi pula ia memang meminum obat tidur. Karena semakin dekat hari pernikahan Putri, membuat Sita semakin tidak berdaya. Putri kecewa kepadanya karena Sita bolak-balik jatuh tertidur, karena malam ini seharusnya menjadi malam terakhir bagi mereka untuk bersama. Akhirnya disela-sela kantuknya mereka pun tidak dapat melakukannya secara maksimal.
Sita bukan hanya sakit kepala saat itu, Betapa dia tidak sanggup menghadapi semuanya. Dan dia ingin lari sejauh-jauhnya dari penderitaan bathin yang dia alami, dan melupakan semuanya yang telah terjadi. Sore itu, Ia menelan 3 buah obat tidur yang diberikan oleh Dr. Dodi, yang seharusnya digunakan hanya saat diperlukan. Meski Sita tahu, dia harus memberikan kapaSitas terbaiknya malam ini untuk Putri, tapi, kepedihan yang dia derita, ketidak berdayaan yang dialaminya, membuat dia merasa harus menenangkan diri agar tidak bertindak kasar kepada Putri. Dia Mencoba melupakannya sekuat tenaga. Meski akhirnya dia harus mengorbankan malam terakhirnya.
Saat ini, Sita merasa sangat sepi, mendengar aLunan lagu willingly yang berputar secara berulang-ulang. Ia merasakan kesunyian yang begitu dalam, kekosongan jiwa yang begitu menyiksa. Tak terasa butir-butir air itu mulai membasahi bantalnya. Betapa ia merasa sangat tidak berdaya menghadapi semuanya.Ia ingin tidur dan melupakan semuanya, dan tidak ingin pernah terjaga kembali. Ia kemudian melihat foto yang diberikan Sita semalam sebelum hari pernikahannya, foto yang berdua dengan Handi, Sita terlihat bahagia di foto itu, lalu betapa kagetnya dia, ketika tidak menemukan cincin yang diberikan olehnya tidak ada dijemari Putri, betapa hancurnya hatinya melihat kenyataan itu, lalu buru-buru ia menyimpan foto itu, dan memegang cincinnya sendiri, cincin yang juga diberikan oleh Putri untuknya, teringat olehnya saat Putri memberikan cincin itu, ketika itu mereka sedang berada di lampu merah pancoran, Putri memegang tangannya dan memainkan cincin pemberian pelangkah atas pernikahan adiknya di jemari Sita. Lalu dia melepasnya, Kalau kamu mau bawa, bawa saja Putri sita menawarkan. Enggak! jawab Putri tersenyum, lalu dia lihat-lihat cincin itu, kemudian dia memasukkan cincin itu kembali kejemari Sita. Sita merasakan sesuatu berbeda dijemarinya, lalu dia kaget, dia raba dengan ibu jarinya, lalu dia tersenyum. Ternyata Putri memasukan kejarinya bukan cincin yang sama, cincin baru yang diberikan untuk nya. Aku tidak tahu harus bagaimana! Putri memberi tahu. Terima kasih Putri Sita tersenyum dan ia merasakan hatinya penuh dengan bunga saat itu, lalu Sita mencium Putri. Mudah-mudahan kamu suka, sayang, aku memilihnya lama sekali! Putri memberi tahu. Sita melihatnya dan melepaskannya dari jemari tangan kiri dan memberikannya kembali kepada Putri, agar ia mengenakannya di jemari manis tangan kanannya. Aku menyukainya, bagus sekali Putri, sangat bagus jawab Sita tanpa mampu berkata-kata lagi.
Melihat cincin Putri tidak berada di jemarinya, Sita merasa hancur luar biasa, dan tiba-tiba ia merasa Putri telah membagi hatinya, Putri juga menginginkan status dan menginginkan Handi juga untuknya, dia tidak ingin melepaskan Sita sekaligus ingin mendapatkan Handi. Sita merasa hancur sekali. Jika Putri mengingikan keduanya sekaligus, dia akan memutuskan pergi dari sisi Putri, dia harus mundur sebelum dia menjadi gila, seperti apa yang pernah dialaminya beberapa waktu yang lalu.
Pagi itu, Ia terbangun dengan badan yang terasa rontok, lagi-lagi Wajah Putri menghiasi pagi miliknya. Mati-matian ia mengusir Putri dalam benaknya, dan menghadirkan Maru. Lalu ia kemudian bergegas mandi pagi, berusaha untuk berwudlu dan menjalankan sholat yang selama ini sudah lama ia tinggalkan. Saat itu ia hanya mampu berdoa, memohon ampun kepadaNya. Oh Tuhan, mengapa kau selipkan perasaan ini dalam hatiku ? Aku mencintainya ya Tuhan, tunjukkanlah aku jalan yang kau ridoi ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapinya.. lalu Sita merasa tidak lagi dapat mengucapkan doa-doa, tenggorokannya tercekat.
Sita menekan beberapa nomor pada telephonenya, tak lama terdengar suara yang lembut dan berat diseberang sana. Assalamualaikum, Mas ! sapanya pada akhirnya. Walaikum salam, Sita jawabnya. Mas ada dimana ? Tanya Sita. Adad dirumah saudara, ada apa Sita ? tanyanya. Cuma pingin ngobrol mas, mas baik-baik aja ? Tanya Sita. Oh iya baik-baik jawabnya pendek. Sekolahnya bagaimana mas ? Tanya Sita. Wah baik Sita, masih tinggal satu subject lagi yang harus diselesaikan, skripsi sudah, mudah-mudahan bisa segera selesai ya, biar seperti Sita jawab Maru. Ya sudah, begitu dulu mas, nanti aku boleh telefon lagi mas ? tanyanya.Boleh Jawab nya. Kapan ? Tanya Sita.Kapanpun Sita mau, telfon aja ya jawab maru arif diseberang sana. Sita pun pamit, dan menutup telefonnya.
Ia mencoba mencari keindahan dengan kehadiran maru dalam hatinya, tapi tetap ia merasa tidak berdaya. Terpikir olehnya untuk menggadaikan cintanya, dan memutuskan untuk segera menikah, dan melepas segalanya, membunuh cintanya, dan mematikan seluruh rasa yang ada, berusaha meraih status yang layak dalam kehidupannya.
Sore itu, Sita sedang menghadapi komputernya, ketika Putri menelfon. Sayangku, kamu masih sayang aku ? Tanya Putri diseberang sana. Sita merasa ada yang mendesak untuk meledak didadanya, betapa bahagianya dia dapat mendengar suara Putri di telefon, sekaligus sedih luar biasa. Iya jawabnya pendek. Aku mau pamit berangkat ke Bandung Putri memberitahu. Dianter siapa ? Tanya Sita Orang itu jawabnya pelan. Kamu sudah melakukannya Putri ? Tanya Sita. Belum jawab Putri. Apanya Tanya Sita. Itu jawab Putri. Kamu masih ingat 2 pesananku, Putri ? Tanya Sita. Ingat, itu ! jawab Putri. kamu berangkat sesore ini dengannya, berarti dia akan bermalam disana Putri ? Tanya Sita tidak rela. Iya jawab Putri. Sampai kapan Putri, kenapa dia tidak langsung disuruh pulang Putri ? Tanya Sita. Iya dia hanya sampai tanggal 27, dan tanggal 27 dia langsung pulang jawab Putri. kamu janji segera menyuruhnya pulang ? Tanya Sita. Iya sayang, aku pamit ya, nAnti kemalaman Putri pamit kembali. Akhirnya Sita mengizinkannya pergi.
Sejak saat itu, Sita berusaha sekuat hatinya untuk tidak menelefon Putri. Betapa ia merasa sangat tersiksa, betapa ia merasa lemah dan tidak berdaya, keesokan harinya dikantor, dia tidak banyak melakukan apa-apa, dia merasa hancur berkeping-keping. Ia menelefon Bianca, sekedar mencari jalan untuk meredakan perih hatinya. Dukanya. Keputus asaannya. Dia kembali menelfon Maru, mencoba untuk menjadi seorang yang memiliki perasaan dan cinta yang normal seperti orang umum lainnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk membangunnya. Tapi dia selalu terjatuh dan terjatuh kembali.
Dua hari kemudian, Putri menelefonnya menanyakan apakah ia baik-baik saja. Tapi Sita merasa semakin tidak berdaya, terlebih ketika Sita mengetahui, bahwa Handi masih tetap berada disana menemaninya, Sita merasa sangat hancur, Putri tidak berusaha menyuruh Handi puang, Putri tidak membicarakannya kepada Handi. Sita ingin sekali Putri membicarakan kepada Handi, bahwa ia tidak menginginkan pernikahan ini, dan meminta Handi untuk mengerti bahwa mereka hanya akan menjakankan sandiwara ini Sita ingin Putri mau melakukan untuk Sita, untuk cinta mereka, mejnaga Sita, membela kepentingan dan perasaan Sita. Tapi ia merasa Putri terlalu lemah untuk melakukan semua itu. Sita merasa Putri tidak lagi membelanya.
Sita dapat merasakan betapa Putri menyayangi dan mencintainya, tapi Sita menginginkan rasa sayang dan cinta itu memberikan kekuatan pada Putri untuk melakukan sesuatu bagi cinta kasih mereka. Tapi kini Sita tidak lagi dapat berharap Putri melakukannya.
Aku usahakan untuk hadir dalam pestamu Putri Ujar Sita suatu kali. kalau kamu tidak sanggup datang, aku mengerti Sita jawab Putri. Iya, lihat bagaimana nAnti ya?! ujar Sita kembali.
BAB VII
EPILOG
Putri duduk disamping sebuah tempat tidur Putrih yang ditiduri oleh seseorang yang dicintainya sepenuh hati. Beberapa selang infus menghiasai tangan dan wajah seorang yang terbujur kaku dengan mata terpejam. Putri Mencium lengan orang yang sangat dikasihinya.
Sementara, dalam keheningan dan kesunyian di sebuah alam sana, Sita berusaha sekuat tenaga mengumpulkan ingatannya. Ia ingin sekali melakukan sesuatu, namun ia merasa lemah dan tidak berdaya, tidak mampu bergerak dan menoleh, Ia hanya ingat ketika sebuah container tiba-tiba telah berada dihadapannya, seketika menabrak tubuh Goldy dari depan dengan keras dan cukup membuat mobilnya berputar dua kali 180 derajat, menghantam sebuah pohon besar ditepi jalan, dan setelah itu, ia pun tidak sadarkan diri.
Saat itu Ia berusaha datang ke pesta pernikahan Putri sendiri, awalnya dia ingin meminta bantuan Maru mengantarkannya, namun niat itu dia urungkan, lalu meminta elman, yang juga pada akhirnya dia batalkan, Ia pun pergi sendiri.
Dalam perjalanan, seluruh kenangan berputar kembali dalam ingatannya, Kisah kasih cintanya bersama Putri, telah membuatnya menjadi seperti ini, posisi yang sangat sulit dia terima. Sita teringat ketika suatu kali mereka menumpahkan seluruh hasrat dan cinta mereka di kamar Putri, ketika itu mereka merasa ingin meraih sesuatu yang selama ini jarang mereka raih, Sita teringat leher jenjang Putri yang kerap ia jelajahi, telinga Putri yang selalu dia bisikan kata-kata kasih cinta mereka. Saat itu Putri begitu pasrah menyerahkannya kepada Sita, dan Sita merasa ingin menjadi lebih superior dengan berada diatas Putri. Eksplorasinya kali ini begitu lembut namun penuh dengan kekuatan cintanya, Kecupan-kecupan yang Sita berikan untuk Putri membuat Putri merasa melayang, hilang akan kesadaran dirinya, semua begitu manis, dan begitu dalam dirasakannya, semakin berkelanjutan, semakin mereka tidak ingin menghentikannya. Pada setiap kecupan, setiap sentuhan mereka menginginkan sesuatu yang lebih, mereka semakin merapatkan tubuh mereka merasakan kehangatan yang membakar hasrat cinta mereka. Sita mengukirnya pada tubuh Sita dengan bibirnya, jemarinya menari diatas kulit Putri, dan lidahnya tidak ingin ketinggalan untuk turut menari mengikuti irama desah nafas yang mereka padukan bersama malam itu, melahirkan sebuah keindahan yang membuat mereka tidak ingin terpisahkan satu sama lainnya.
Keinginan akan sebuah pemenuhan hasrat semakin terbang jauh meninggi, menyentuh pelepasan dan peledakan sempurna atas sebuah rasa dan seandainya mereka tidak meraihnya seolah mereka akan hancur, Dan ketika Sita mendengarkan desah nafas Putri yang tertahan, seluruh perasaan cintanya terus memburunya untuk memberikan kebahagiaan untuk Putri, terus memacu dirinya, untuk mengantarkan Putri kepada sebuah awan, pada sebuah ketinggian dan pada sebuah kedamaian, terus bertahan, hingga pada akhirnya ia merasakan tubuh Putri bergetar dan melepaskan seluruh nafasnya yang tertahan oh honey..sudah..sudah..cukup dan Sita pun memperlambat iramanya dan menghentikannya perlahan. Ia kecup wajah Putri, dan membantu Putri mengatur nafasnya kembali, Sita memijit daerah yang mungkin Putri merasa kelelahan. Ada apa Putri, aku menyakiti kamu ? Tanya Sita, berusaha mencari tau. Namun Sita hanya melihat wajah Putri yang masih terpejam itu memberikannya senyuman.. Aku sayang kamu! ujar Putri sambil kemudian memeluk Sita erat-erat. Kenapa Putri ! Tanya Sita khawatir. Kamu pandai malam ini! jawab Putri. lalu? Tanya Sita masih tidak mengerti Aku sudah sampai.. Jawab Putri malu-malu. Dan saat itu Sita merasakan keindahannya sendiri, kebahagiaan membawa Putri kepada sebuah kedamaian sebuah pencapaian, pemenuhan sebuah hasrat. Ia pun menyelimuti Putri dengan penuh kasih sayang, dan kembali memeluknya dan tertidur dalam kedamaian yang telah mereka ciptakan malam itu.
Dan Sita tidak menyadari pada tikungan dua arah, diseberang sana ada container yang berjalan dengan kecepatan rata-rata, berusaha mengambil haluan untuk berbelok, namun tidak dapat dihndari, kedua kendaraan itu sama-sama terkaget-kaget dan benturan itu tidak lagi dapat dihindari.
Ketika Balai sudirman begitu meriah dengan pesta pernikahan Putri, Sita berkutat dengan rasa perih dan pedih fisik dan bathinnya, berkecamuk..berperang melawan dan memperjuangkan hidupnya, memperjuangkan cintanya untuk Putri, berusaha bertahan untuk dapat memiliki kesempatan mewujudkan seluruh impiannya bersama Putri, ia ingin hadir menunjukkan kekuatannya, namun mobil Putrih yang membawanya kali ini tidak mengantarkannya ke Balai sudirman.
Saat ini ia merasa sangat tidak berdaya, ia dapat merasakan kehadiran Putri disisinya, namun ia tidak berdaya mengumpulkan serpihan-serpihan kekuatan dalam alam pikirannya yang telah porak poranda, seperti porak-porandanya bagian dalam tubuhnya karena kecelakaan ini.
Putri tidak lagi perduli akan orang-orang disekelilingnya, yang merasa heran akan dirinya yang tidak juga beranjak dari sisi tempat tidur itu. Ia hanya menatap tanpa mampu berkata apa-apa. Menatap wajah seorang yang dikasihinya. Ia hanya perduli akan Sita. Sita yang tidak berdaya saat ini. Kalaupun ada kesempatan yang diberikan untuknya dia akan menghabiskan waktunya bersama Sita, merawatnya dan melakukan apa saja untuk Sita, Begitu banyak yang terucap dalam hatinya untuk Sita dan Putri yakin Sita akan mendengarnya.
Namun diseberang belahan alam yang lain, Sita sedang meregang nyawanya, mempertahankan haknya sebagai manusia yang memiliki kebebasan sekaligus sebagai manusia yang tiada lagi berdaya dan menjadi seorang Hamba dihadapan Tuhannya. Sita ingin meraih Putri dalam dekapannya, namun dia hanya mampu mengalirkan butir-butir air di kedua sudut matanya. Ia hanya ingat bahwa ia mencintai Putri, dan akan terus mencintainya, meski saat ini ia hanya memiliki nyawanya, tanpa mampu meraih jasadnya sendiri
SELESAI
Catatan :
Novel ini Diselesaikan Tahun 2001 dan didedikasikan kepada seseorang yang telah memberikan keindahan dalam hidup, Adinda Marü. |
|