Melukis Langit
Kita pernah ingin melukis langit bersama-sama
Dengan warna yang memang kita inginkan
Tak harus biru, jingga, hitam pun abu
Tapi ternyata kita tak pernah melukiskannya bersama-sama
Kau biarkan aku melukis langit itu sendiri dengan warnaku
Dengan warna yang tak kamu inginkan
Lalu kau lukiskan warna lain di langit yang lain
Bukan langitku, hanya langitmu
Warna langit kita tak pernah jadi satu
Kita hidup dipayungi langit masing-masing
29/03/03
11:26 am
Kecintaan
Rinai sentuhkan titiknya di permukaan bumi
Tebarkan bau magis
Satukan udara membahana dengan sebentuk haribaan luas terentang
Memeluk, dipeluk, saling, erat tinggalkan jarak
Satukan keterbukaan dan ketulusan
Rinai itu masih sentuhkan titiknya dipermukaan bumi
Jatuh seumpama jarum, yang turun dengan lembut sentuh kulit
Meresap dalam pelukan hangat sang pemangku abad
Ada keinginan murni tumbuh dari keterbukaan dan ketulusan
Kecintaan abadi
Kala tubuh rinai sentuh tubuh bumi hingga akhir abad
1:20 pm
08/10/03
Bukankah Denyar Ini DariMU?
Aku mencariMu kala tak rasakan lagi hadirMU di antara sekat-sekat kalbuku
Aku mencariMu diantara serpihan-serpihan kecil yang kau tinggalkan di sudut sekat-sekat kalbuku
Serpihan-serpihan itu aku susun satu demi satu
Serpihan-serpihan yang tersisa aku gabungkan, aku satukan
Bentuk wujudMu dalam kalbuku
Kau kini tak tersentuh
Tunggu
Atau
Atau
Aku yang tak mau menyentuhMu?
Atau..
Aku telah tinggalkanMU?
Aku tak rasakan kehadiranMu saat ada denyar lain terasa dikalbuku
Denyar yang membuatku tersisih dariMu pun orang lain
Denyar yang membuatku di kutuk keadaan
Denyar yang membuatku terbuang dari keberadaan
Lalu dari mana denyar ini berasal?
Bukankah denyar ini berasal dariMu?
Lalu kenapa ada yang mengatakan bahwa denyar ini membuat aku meninggalkanMU?
Bukankah denyar ini pun datang dariMU?
1:08 pm
08/10/03
Malam
Diantara lautan pasir aku mengenangmu
Ditemani deburan ombak aku mengingatmu
Dibalik mentari yang mulai kembali keperaduan
aku meninggalkanmu
Selamat tinggal senja, selamat tinggal cinta
Kini aku kembali dalam kelam malam
Dalam pekat yang tak juga usai
Taburi tubuh dengan bintang
Bersenyawa dengan awan kelam
Aku kembali padamu
Pada kemagisan yang sang malam
Jadikan aku pengantinmu
Padukan jiwaku dalam misterimu
Setubuhi aku
Bawa aku bersamamu
Malam jiwaku
09/10/03
3:51 pm
menulis
secangkir kopi
sebatang rokok
secarik kertas
sebuah balpoint
sepenggal ide
sebait kisah
separagraf khayal
lalu
aku mulai menulis
09/10/03
3:55 pm
Aku Mengenangmu
Aku mengenangmu dalam setiap helaan nafasku yang tak juga berujung
Aku mengenangmu dalam nafas tertahan dalam kepiluan yang tak juga usai
Aku mengenangmu hingga darah tercurah dari hati yang kanan, yang telah kau tikam dengan bilah pisau yang kau genggam
Aku mengenangmu kala tatap mata hujam palung hati yang tlah koyak
Aku mengenangmu sebagai pencuri yang telah memporak-porandakan ruang jiwa yang telah kau pinjam dari ku
Aku mengenangmu sebagai kesatria yang tinggalkan medan laga sebelum berperang
Aku mengenangmu tanpa nama dan jasa
Aku mengenangmu tuk larungkan dirimu dari diriku
11/10/03
10:56 am
Nekad
Jalanan lengang
Langit terang
Angin gersang
Aku tegang
Ingin terbang
Bawa pedang
Yang ku pegang
Tak juga tenang
11/10/03
11:07 am
Keduanya
Berdiri diantara dua dunia
Beda bentuk, beda warna
Menginginkan keduanya
Tak bisa memilih
Tak mungkin menolak
Keduanya buat sempurna
Keduanya padukan rasa
Kuambil paling berwarna
Kuambil yang paling berbeda
Tak jadi yang sempurna
Ingin keduanya
Ingin memilikinya
Harus gimana?
Ingin keduanya
Atau ku buang keduanya?
15/10/03
1:48 pm
Mencari Bintang
Duduk di tepian jendela kamarku
Sebatang rokok di tangan
Hembuskan asap, menarik napas
Mentari senja mulai beranjak
Langit tersapu warna jingga
Duduk di tepian jendela kamarku
Pandang malam turun di pelupuk mata
Burung malam mulai mencari mangsa
Kesenyapan pun mulai meraja
Duduk di tepian jendela kamar
Menghitung bintang di angkasa
Beratus, beribu, berjuta
Terang, tenang, jiwa melayang
Jiwaku mulai mengangkasa
Temui bintang-bintang kita
Arungi angin di gelap malam
Carikan jiwa tempat berpijak
Tak jua ku temukan bintang kita
Sembunyikan wajah di balik awan
Enggan berjumpa temui jiwa
Ada cinta yang lupa aku bawa
Ku telusuri seluruh penjuru langit
Panggil bintang tuk sentuh jiwa
Tapi langit masih juga diam
Biarkan jiwa melayang tak terpegang
Tak juga sampai jiwa pada bintang
Waktu beranjak begitu cepat
Aku masih melayang mencari bintang
Hingga fajar pun mulai datang
Jiwaku kembali pada nyata
Bintang tak juga ada di tangan
Hampa terasa di dada
Jiwa lepas tinggalkan raga
16-17/10/03
9:32 am
Bercerita Tentang Hidup
Ada yang bercerita tentang kisah kasihnya
Ada yang tertawa melihat sekelilingnya
Ada yang berduka karena hidupnya
Ada yang tak merasa apa-apa
Hidup
Mengalir ikuti arus
Mau kemana atau sampai mana
Tahukah kita sampai mana?
Berencana tentang cinta
Berharap akan bahagia
Tetap kita tak punya kuasa
Karena kita hanya manusia
Ada yang hadir dekat kita
Ada yang pergi tinggalkan lara
Adakah kita bisa menahannya?
Dengan apa kita menahannya?
Ada kuasa atas kita
Marah padaNya tentu kita bisa
Tapi apa yang kita punya
Hanya kecam yang terucap
Tapi hidup tetap tak berpihak
Karena hidup hanya milikNya
Berserah atau menyerah?
Apapun itu terserah
Jalanilah meski terkadang gerah
Mungkin nanti ada yang menggugah
10:44 pm
22/10/03
Maafkan Aku Gadis Kecil Pengamen Jalanan
Sepasang binar mata
Sebait lagu yang dia nyanyikan
Dengan peluh yang melulu luruh basahi badan
Tangan mungilnya petikan gitar
Mengalun nada yang terkadang sumbang
Adilkah semua yang aku pandang
Keluguan yang masih terpancar
Seakan harus hilang tertikam keadaan
Gadis kecil pengamen jalanan
Nyanyikan lagu tentang kehidupan
Alunkan syair berjuta harapan
Di mana Tuhan berikan keadilan
Bila tubuh mungil tak temukan lindungan
Mata-mata sekitar hanya bisa memandang
Sementara hidup bagi dia begitu mencekam
Maafkan aku gadis kecil pengamen jalanan
Tak mampu ku berikan secuil kebahagiaan
Maafkan aku gadis yang didewasakan keadaan
Rasaku tak juga hadirkan tindak
Hanya diam yang kuperbuat
Hingga kapan harus ku lihat
Tangan mungilmu petikan gitar
Sementara hidup terus berputar
Akankah pijakan itu kau temukan?
Maafkan aku gadis kecil pengamen jalanan
Kata-kata ini hanya berkilah
Hanya pembenaran yang tak harus kau dengar
Kenaifan yang aku sembuyikan
Karena aku tak bisa apa-apa
Hanya pandang nanar yang aku punya
Aku tak bisa lakukan apa-apa
Sekali lagi
Maafkan aku gadis kecil pengamen jalanan
Maafkan aku tak bisa berbuat apa-apa
10:58 pm
22/10/03
Kita dalam Tanya
: perempuan-perempuan androgini
Seringkali kita ingkari apa yang selama ini kita rasakan
Kita tak tau hingga kapan harus kita bertahan sementara apa yang kita temukan dalam perasaan ini begitu menikam
Kitalah manusia yang tak pernah mereka pandang
Hingga kapan bisa kita tahan apa yang selama ini sudah kita rasakan
Hadirnya rasa dalam bayang tak juga usai sementara keadaan terkadang buat kita tak bertahan
Setiap cercaan coba kita tahan, menelan dan menelan yang bisa kita lakukan, tapi sampai kapan kita harus bertahan?
Haruskah mengalah melulu jadi pertahanan?
Salahkah hidup yang kita jalankan?
Dosakah kita dengan semua yang kita rasakan?
Darimanakah sebenarnya rasa ini datang?
Rasa ini datang perlahan, hingga kita pun tak tau mulai kapan
Tapi darimanakah rasa ini datang?
DariNyakah semua ini datang?
Apakah kita harus tenggelam karena menahan perasaan
Sementara getar ini melulu tikam kita dari dalam
Haruskah kita tetap mendekam sementara orang terus mengecam?
Hingga kapan, sampai kapan?
Kapan hidup pandang kita dari depan?
Atau kita memang harus selalu di persimpangan?
Hanya tanya dan tanya terucap
Berbusa rasanya mulut kita
Tapi tak ada telinga yang dengarkan kita
Kita memang dipandang tak pernah ada
Karena kita manusia-manusia pendosa di mata mereka
Adilkah mereka pandang kita
Makhluk yang bernama keadilan memang tak ada buat kita
Kita hanya berpegang pada apa yang kita punya
Adil dimata mereka hanya singkirkan kita ke dalam neraka
Kita hanya manusia-manusia pendosa di mata mereka
DariMukah semua ini datang?
Lalu mengapa mereka tak juga mau paham?
Lantas ingin segera buang kita dalam kubangan
Bila bukan dariMu semua ini datang
Lalu mengapa semua ini kita rasakan?
11:42 pm
22/10/03
Di mana Kita
Jika perbedaan suatu hal yang wajar
Bila semua beda tetap di terima
Mungkin kita akan ada diantara mereka
Saling berbagi warna yang tak mereka punya
Tak harus dipakai tapi hanya untuk diterima
Hanya untuk mengetahui dan menyadari bahwa kita ada
Tak perlu peluk cium
Hanya anggukan kepala yang kita pinta
Biarkan kita hadir dan berada
Biakkan rasa yang memang kita punya
Jadikan kita ada diantara mereka
Tapi inilah hidup yang tak pernah berpihak pada kita
Berada di garis tepi dan tak pernah bisa menepi
Berpindah garis berarti kita tersingkir
Menjadi apapun kita tetaplah nista
Kemanapun kita tetaplah dosa bagi mereka
Pada diri sendiri kita berpegang
Pada urat darah kita bergantung
Tak usah mengeluh atau mengaduh
Karena mereka akan tetap menuduh
Guratkan garis diantara mereka
12:48 pm
26/10/03
Hanya
Mengalir bersama air, melayang bersama angin
Di bawah atau di atas aku mengenangmu
Dalam desahan nafas, dalam kebisuan sikap
Aku tetap ingin mengenangmu
Tumpahan nafsu, geletar hasrat aku menginginkanmu
Aku di sini mengenangmu
Tanpa apa-apa, tanpa harapan
Aku di sini hanya ingin mengenangmu
Kehadiran, kepergian, kebahagiaan, kesedihan
Aku mengenangmu dalam semua sikap yang ada
Hanya ingin mengenangmu, hanya itu, cuma itu
10:11 am
25/10/03
MenginginkanMu
:saat merindukanMu
Ada ruang kelam yang buatku jauh dariMu
Ada jurang dalam yang buatku tak bisa sentuh diriMu
Ada sekat sempit yang buatku terpisahkan dariMU
Ada jarak terentang yang buatku tak sanggup memelukMu
Ingin mendekatiMU, tapi sanggupkah aku kembali beranjak
Ingin memelukMu, tapi bisakah tanganku menjangkauMU
Ingin menjamahMu, tapi sanggupkah aku menemuiMu
Ingin mencintaiMu, bisakah kau terima aku
Bertanya, hanya tanya, hanya pertanyaaan
Hanya ini yang aku punya
Hanya keinginan yang tak jua terjawab
Aku menginginkan hingga tubuh menggeletar
Aku merindukanMu, aku menginginkanMu
Aku ingin kembali mendapatkan cintaMu
Aku
aku
aku
Ingin cintaMu
Ingin pelukMU
Ingin sentuhanMU
Ingin adaMu
Ingin Kamu dalam diriku
Akankah, bisakah, mungkinkah?
Kembali tanya yang terucap, kembali ragu menjalar
Hingga tubuh ini tak lagi merasa
Hingga diri ini tak lagi bernyawa
Aku menginginkanMu dalam diriku
Datanglah padaku
Gapai aku dengan tanganMu
Peluk aku dalam haribaanMU
Berikan aku cintaMu
Aku benar-benar haus sentuhanMu
Aku benar-benar merindukanMu
6:40 am
18/11/03
Menjadi Perempuan
Di sinilah aku seorang perempuan menyandarkan dirinya
Pada sebuah ruang yang tersisa dari semua sekat hatinya
Membiarkan dirinya menjadi sesuatu yang telah bersemayam di kepalanya
Tanpa takut, tanpa ragu, tanpa tekanan menjadi sesuatu buat seseorang
Arungi hidup yang dibangunnya, jalankan kemudi menuju dermaganya
Sendiri menjadi sesuatu, tanpa nakkoda seorang laki-laki
Menuju dermaga dengan bangga
Dermaga keberhasilannya
Menjadi diri sendiri
Menjadi seorang perempuan
Menjadi manusia sejati
Bangun dunia diri sendiri, dengan tangan sendiri
Dengan tangan keperempuanannya
Acungkan tangan, kobarkan semangat perjuangan
Bahwa hidup pun milik kaum perempuan
Jadi perempuan yang benar-benar perempuan
09/01/04
9:57 pm
|
|