LAGUT
Akar rumput yang tercerabut
Bersama akarnya membawa kepunahan
Padang lengang tanpa tahta
Mahkota pun singgasana
Langit pekat, senyap
Tanpa gerak tanpa tindak
Lagut, hanyut pada tepian ara yang menghujam
Alunan musik, sekatkan diri
Pada batas penuh jarak
Terjebak dalam ketiadaan, dalam kesunyian
Aku terjerembab
Jurang dalam menganga pada pelupuk mata
Jatuh, menjatuhkan diri
Deru angin terbangkan raga tersisa
Lepas, tandas tanpa sisa
Lenyap tanpa bekas
180203
YAKINI MENTARI
Menyusuri pematang panjang
Kala raga tinggalkan jiwa
Biarkan larut dalam cumbu
Mesra, lembut sang angin
Sentuh mentari yang setia menanti
Resapi ketulusannya
Percayai kejujurannya
Hangatnya sentuh jiwamu
Yang luruh penuh nanah
Yakini mentari dihadapanmu
Janjinya akan selalu ada buatmu
Jauhkan jiwamu dari caci maki
18.04.03
LAUT KELAM
Debur ombak yang bergetar di telinga
Kenangan jelajahi cakrawala penuh bintang
Langit kelam
Laut hitam
Semuanya kelam dihadapan
Magis pada warna kekelaman
Dua jiwa bergumul
Menyatukan raga yang terentang jarak
Buih sentuh lembut keduanya
Satukan raga dalam kelam
Kala fajar melipat malam
Garis pantai terpampang jelas
Keindahan tak akan hilang
Meski mata dua raga itu terpejam
Lembut pasir, pijar bintang
Kejaran buih, kelam malam
Terpatri lekat tanpa jarak
04.02.03
DALAM KELAM
temaram sinar dari balik ranting pohon yang berdiri tegak di sudut padang lengang
titik sinar itu menyentuh lembut bunga rumput yang bergerumbul riuh di tengah padang
semua itu membiaskan warna pada kekelaman yang tercipta
warna haru, warna suka, warna duka
membaur, menyatu pada kelam malam yang di temani bulan
15.06.03
PEREMPUAN DI MATA LAKI-LAKI
Gerak tubuhnya, tatapan matanya membuatku tersadar
Inilah makhluk yang bernama perempuan
Manusia yang terkadang tak kusadari eksistensinya
Sosok yang selamanya selalu menjadi mitos
Sosok yang selalu larut dalam gumpalan perasaan
Manusia yang terlalu intuitif
Kini aku melihatnya berjalan, bergerak bersama angin
Aku tatap dia
Ada yang bergetar dalam jiwaku
Inikah puncak ciptaan Tuhan?
Ingin mendekat
Ingin mendekap
Ingin menjamah
Ingin mencium harum tubuhnya
Kuisap dalam, kusentuh, kubawa
Ku ingin memilikinya
Hei, dia lari!
Aku mengejarnya
Tak terkejar
Dia bergerak menjauh
Dia bergerak!
Tunggu aku perempuan!
Tunggu aku!
Aku manusia dengan sembilan pikiran
Aku laki-laki
Aku pemilik satu tulang rusuk yang kau ambil
Jangan pergi!
Kau milikku perempuan!
Kau terhenti seketika, menatapku tajam
Kau manusia dengan sembilan perasaan
Kau yang tercipta dari satu tulang rusukku
Kenapa kau menatapku dengan tusukan pandangmu?
Apa yang ada di kepalamu?
Apakah kau menolak aku miliki?
Sadarlah kau akan tetap jadi milikku
Secepat apapun kau lari, sejauh apapun kau pergi
Kau akan tetap jadi milikku
Jangan tatap aku seperti itu perempuan!
Tundukkan pandangmu!
Aku rajamu, kau hambaku!
Hei, mau kemana kau?!
Kembali perempuan!
Kembali kau pencuri tulang rusukku!
24.11.02 (Jurnal Perempuan #33)
MENGAPA ? JADI APA?
Melingkar, memanjang, horisontal, vertikal
Beruas, bersudut, berbentuk, berwujud
Beradu, bertumpuk, terbentur, menubruk
Jadi remuk, tak berbentuk
Tak jadi, tak apa, tak usah jadi gundah
Biar saja jadi rusak, biar saja jadi bengkak
Buat apa mesti gundah, buat apa mesti resah
Tetap melingkar tak apa
Jadi memanjang bukan masalah
Biarkan saja apa adanya
Tak perlu susah-susah
Biarkan saja jadi apa
Tak jadi apa-apa juga tak mengapa
16/06/03
MATA HATI
Bersiullah yang keras biar terdengar sampai ke seberang. Katakan dengan siulanmu bahwa kau menunggunya di sini, di tepi dermaga tempat terakhir kau bertemu dengannya. Ayo, bersiullah yang keras! Kenapa jadi menyerah, kau masih punya kesempatan menggapainya.
Lihat dia melihatmu! Hei, dia lambaikan tangannya! Ayo, menyeberanglah dekati dia, jemput dia. Bawakan dia cinta yang kau punya. Ayolah jangan ragu, bukankah kau ingin memilikinya. Dekatilah, hanya sebatas dermaga, kenapa harus menunggu lama?
Cepatlah dia sudah menunggu terlalu lama! Jangan biarkan dia lama menunggu, lelah dia nantinya dan tinggalkan kau nanti! Cepatlah! Hei, kenapa kau tak juga beranjak?
Tuhkan aku bilang juga apa! Dia kini beranjak, kini apa yang bisa kau lakukan? Sia-sia sudah semua yang kau lakukan. Hilang sudah satu kesempatan.
Apa katamu, kau mengujinya? Kau tak melihat kesungguhan di matanya? Mata mana yang kau lihat? Jarakmu terbentang luas! Apa? Kau lihat dengan mata hatimu?!
16/06/03
Meja Bundar
Asbak bebek bolong, sebungkus permen, sekantong makanan kecil, sebungkus rokok, korek api, serakan kertas menumpuk di atas meja bundar
Jadi saksi ribuan obrolan, ratusan diskusi. Jadi tumpahan kopi, jadi sandaran kaki. Meja
meja bundar yang akan tetap bundar
Tak pernah beranjak, tak pernah mengeluh, jadi meja ya tetap jadi meja bisu tak berkata-kata
16/06/03
Cumbu Angin
Guguran daun yang turun satu demi satu
Mengikuti irama angin yang mencumbunya
Perlahan dan penuh kelembutan membuat daun bergetar
Cumbuan angin pada daun begitu dalam
Hingga kepak burung pun enggan terdengar
Alunan lagu yang tercipta begitu sahdu
Lembut, dalam, dan penih gairah
Saling menyentuh, saling mencium, saling memeluk
Begitu mesra cumbu angin pada daun
Hingga angin tak beranjak dari sisi daun
16/06/03
Kesaksian
Apa yang kau pikir bila kau melihat meja bundar?
Tempat kau menyimpan asbak bebek bolongmu?
Tempat kau letakan kopi saat kita tengah berdiskusi?
Atau kau mungkin tak pernah memperhatikannya?
Meja yang tetap meja, tak ada yang tau bahwa dia paling tau
Beribu cerita, beratus kisah telah dia dengar dari mulut-mulut yang terus menerus berbusa bercerita dan berkisah
Tentang politik yang tetap berbau amis, tentang seni yang terkadang dipandang begitu agung, tentang sastra yang sering jadi cerita, tentang cinta yang tak akan pernah dipahami, atau tentang hidup yang tak habis dijalani
Saksi semua yang pernah dilakukan, wujud yang seringkali terlupakan
Hanya menjadi hiasan, hanya menjadi sesuatu yang memang seharusnya ada dan kala tak ada akankah kita peduli?
Apa rasanya bila kau menjadi meja bundar itu?
Melihat semua berjalan, memandang apa yang ada dihadapan
22/06/03
GUGURAN DAUN
Jatuh satu demi satu, melayang perlahan tertiup angin semilir yang begitu lembut, mengalir pelan sangat pelan
Adakah beban yang ditanggung?
Atau semua tugas yang diemban telah usai?
Begitu tenang, melayang satu demi satu
Lembaran-lembaran yang kemudian tersapu angin
Ada kelegaan terbias pada telaga
Pancarkan bayang dari gugurannya
Getaran perdengarkan nada merdu dalam ingatan
Tassh
tassh
tassh
tassh
Sepuluh
seratus
seribu
daun luruh pelan di hadapan
Jalin nada penyerahan kala tugas suci telah usai
Kembali pada kesunyian, menjadi kering terbawa angin
Pasrahkan diri, menjadi satu pada hidup yang inginkan diri
Partere, 250603
09.20 am (DS for President #2)
Kala bumi beranjak senyap dan angin enggan berdesir
Kau tikam jingga dengan hitammu
Kau kubur senja dengan gelapmu
Meraja di balik waktu yang sesaat
Merebut warna dari kilatan mata agungkan senja
Kau hadir wujudkan kelam tak berjarak
09/06/03
langkah-langkah kecil susuri pematang
hadirkan tawa tertiup angin keriangan
mengalir, menyatu merasa waktu sahabat sejati
leburkan perih yang tak pernah terasa pedih
lukiskan tawa hanya tawa, uraikan tangis hanya tangis
tak berjarak, tak terpasung, biar lepas
terbang tinggi, jauh
jauh
sentuh langit, naiki awan, berputar memandang bumi dari ketinggian
jadi raja, jadi ratu, jadi apapun yang terlintas di kepala
ini punyaku, jangan rebut dari tanganku
biar genggam ini tak terlepas
biar riang ini terus terdengar
09/06/03
Kota Senja
Memandang kota terkurung senja
Senja yang berselimut jingga
Jingga kan tinggalkan cerita
Cerita tentang peluh basahi jiwa
Jiwa-jiwa melayang di atas dermaga
Dermaga yang abadikan kita
Kita arungi kota penuh jelaga
Jelaga tlah kotori raga
Raga kita hanya jadi perantara
Perantara kita arungi kota berpayung senja
23/06/03
00.47 am
Pembunuhan
Berputar
berputar
berputar
Bergerak
bergerak
bergerak
Arah mana? Mau kemana? Sampai mana?
Hingga kapan? Sampai lelah? Sampai ajal?
Aku tertikam, aku berdarah, aku terkapar
Aku dibunuh waktu
11.09 pm
07/08/03
Aku ingin membunuh waktu
Aku ingin membunuh waktu
Karena waktu telah membunuhmu
Waktu menikammu dan membawamu dari pelukkanku
Aku membenci waktu
Aku tak ingin lagi menemui waktu
Waktu benamkan aku dalam palung tak berujung
Waktu buat aku berputar dalam labirin kelam
Waktu jauhkan aku darimu
Waktu mengambilmu dariku
Aku ingin membunuh waktu
Telah kuasah tajam keris ditanganku
Kucoba tusukkan keris pada bumi
Bumi berdarah
Aku tau keris ini pun dapat membunuhmu
Membunuh sang waktu yang telah merampasmu
Kuacungkan keris di atas kepalaku
Kuteriakan namamu
Ku panggil waktu untuk berhadapan denganku
Di mana kamu waktu?
Di mana kau sembunyi!
Kemari kau waktu!
Aku ingin menuntut balas padamu!
Aku masih saja berteriak hingga suaraku serak
Sang waktu pembunuhmu itu tetap tak hadir
Pengecut! Kemana kau pergi?!
Keris masih dalam genggamanku
Aku masih saja berteriak
Memanggil waktu yang menikammu
Ada yang memegangku dari belakang
Tanganku yang menghunus keris berbalik menuju badanku
Kau
Ya
kau waktu yang telah membunuh kekasihku
Kau pegang tanganku dan kau tikamkan keris itu padaku
Aku pun terbunuh sang waktu
11.30 pm
07/08/03
YANG TAK SERAKAH
Mengapa laut pasang di malam hari?
Mengapa saat pagi menjelang laut mulai surut?
Kenapa?
Karena laut pecinta yang tak serakah
Laut mencintai pesisir
Laut mencintainya tanpa merasa paling memilikinya
Cinta sederhana sesungguhnya
Laut rengkuh pesisir saat bumi mulai lelap
Di kesunyianlah laut setubuhi pesisir
Laut lepas kembali pesisir saat mentari menjelang
Pergi tuk hadir kembali
Kembali berikan cinta yang tak serakah
03/08/03
07.25
Aku
Gulung aku bersama buihmu
Hantamkan aku pada karangmu
Benamkan aku dalam palungmu
Gulingkan aku di atas pasirmu
Karena aku ingin dimilikimu
03/08/03
07.30
Kita dan Laut
Laut pertemukan kita kala senja telah datang
Batas cakrawala hadirkan kita dalam bayang
Dekatkan kata yang diucapkan jiwa penuh makna
Sentuhkan raga pada buih dan ombak yang bergulung
Jiwa kita menyatu bersama camar
Bergulung bersama ombak
Tenggelam bersama senja
Jiwa kita hadir, pergi dan kembali
Disaksikan laut yang dekap erat jiwa kita
03/08/08
07.35
Warna Kita
Ada yang berputar dihadapanku
Bergerak maju, terus dan terus
Hentakkan aku dari angan panjang
Sentuh aku tuk hadiri realita
Waktu pertemukan kita dalam nyata
Leburkan diri dalam bentangan jarak
Sentuhkan hati tuk gapai diri
Hingga jarak tergapai jari tangan
Kini kita sentuh semuanya dengan rasa
Semuanya hadir dihadapan kita
Realita ada dalam pandangan kita
Semuanya punya warna baru buat kita
Kita akan lukis semuanya sama-sama
Jari kita akan saling melukiskan jiwa kita
Ada yang bertaut saat jari kita bermain
Kanvas dihadapan kita terus dan terus berganti
Semua kanvas itu tak akan pernah cukup karena kita tak pernah berhenti melukiskannya
Warna-warna yang kita padukan adalah warna kita
Kita lukiskan semuanya dengan warna
Gerak tangan kita lincah lukiskan semuanya
Karena kita lukiskan kita, dalam kanvas kita, dengan warna kita
8:42 pm
28/08/03
Warna di Kanvasku
Warna apa yang akan aku goreskan di kanvasku?
Bolehkah kau tau?
Ini warna yang tak akan pernah kau lihat
Ini warnaku, warna yang aku pilih, warna yang menjadi diriku
Bukan hitam, bukan putih, bukan abu, bukan merah, pun biru
Bukan semua warna yang pernah kau kenal
Warna ini tak akan kamu kenal dan kamu tak perlu tau
Biarkan aku goreskan warna ini dalam kanvasku
Kanvas yang ada di dalam kamarku
Kamarku yang tak pernah kau masuki
Aku goreskan warna ini perlahan-lahan
Aku lukis sesuatu yang ada dalam benakku
Aku bentuk semua yang ada dalam dadaku
Jadi sesuatu yang tak perlu kau lihat
Hanya aku cukup aku yang tau
Ini kanvasku dan ini warnaku
8:04 pm
28/08/03
Merah
Ada anggur merah dalam sajian makan malam kita
Kita teguk sama-sama, dalam kenikmatan
Ada yang merambat dalam tenggorokan kita
Mengalir melalui sel-sel darah kita
Ada yang berwarna merah dalam darah kita
Ada yang memanas dalam darah kita
Kita rasakan anggur merah
Mengaliri setiap sel-sel darah kita
Mengalir mengikuti sel-sel yang lain
Membuat segalanya menjadi merah
Darah kita yang memerah menjadi semakin merah
Ada yang menggelepar dan akhirnya meledak
Sel-sel darah kita memberontak
Ada yang naik ke kepala kita
Ada yang memukul-mukul kepala kita
Ada yang bersemayam dalam dada kita
Yang memberontak untuk keluar dari kepala kita
Badan kita mememerah, hati kita memerah
Kita menjelma bentuk berwarna merah
Kita sama-sama menjadi merah
8:10 pm
28/08/03
Ada
Ada jingga dalam merahmu
Ada merah dalam jinggamu
Ada putih dalam birumu
Ada biru dalam putihmu
Ada abu dalam hitammu
Ada hitam dalam abumu
Ada warna itu dalam warna ini
Ada warna ini dalam warna itu
Ada satu dalam duamu
Ada dua dalam satu
Ada sesuatu dalam dirimu
Ada dirimu dalam sesuatu
Ada yang harus ada dalam tiada
Ada yang harus tiada dalam ada
Ada dan ada, tiada dan tiada
Tiada dalam ada
Ada dalam tiada
8:29pm
28/08/03
Bias Bayangku
Ada yang memberiku sebuah cermin
Kupandangi bayangan yang dipantulkannya
Akukah yang terbias dari cermin itu?
Yakinkah kau bahwa itulah diriku?
Harusnya semua itu kau pertanyakan kembali
Inikah aku yang ingin kau lihat
Atau itu hanya bias yang sengaja aku munculkan?
Bias diriku yang mungkin saja hanya terbalut topeng
Topeng yang saat itu aku kenakan
Bayangan itu hanya ilusi yang aku hadirkan untukmu
Lihatlah lebih dekat benarkah itu yang kau lihat?!
Lihatlah lebih dekat, jangan tertipu bias kepura-puraan
Kuhadirkan diriku dalam cermin yang kau sodorkan
Kuberikan bayangan yang ingin kau lihat
Lihatlah aku dibalik bayangan itu
Itulah diriku yang harus kau lihat
12:50 pm
30/08/03 (DS for President #2)
Sudutmu
Lepaskan pakaian yang saat ini kau kenakan
Biarkan dirimu telanjang dihadapanku
Hingga aku bisa memandang setiap lekuk tubuhmu
Biarkan aku telusuri seluruhnya agar aku memahamimu
Pakaianmu adalah topeng yang saat ini kau kenakan
Maka lepaskanlah semua itu darimu
Jadikan aku orang terpercayamu
Biarkan aku mengenalmu dari sudut yang kau tutupi
Aku hadir tuk pahamimu dari setiap bentuk yang kau sembunyikan dariku
Tak ada yang akan tau karena mereka terlalu mau tau
12:55 pm
30/08/03
Bukan Sebuah Kompensasi
Wajah-wajah nanar menatapku penuh tanya
Intuisiku bergerak
Egoku mulai memuncak
Namun wajah-wajah itu masih saja menatapku
Nanar, kosong dan beku
Ya, aku memang harus berlari
Siapa yang mau peduli?
Intuisiku masih saja bergerak
Senja itu hampir lewat ucapmu
Kamu masih disini? tanyamu
Aku masih takut pada wajah-wajah itu
Raut wajah yang ada dalam benakku
Aku memang harus berlari
Hanya egoku masih memuncak
Mau ke mana kau pergi? katamu
Atau kau biarkan saja senja itu lewat?
Wajah-wajah itu!
Ah, biarkan saja! sahutmu
Tiada yang abadi, lanjut ucapanmu
Intuisiku bergerak perlahan
04/10/99
23.30
Taman
Atap itu masih seperti dulu
Menawarkan seraut keindahan senja
Yang tak habis aku kagumi
Anggrek merpati masih tebarkan wangi
Daun-daun nangka masih saja berguguran
Tak ada yang berubah, atau
Mataku terlalu rabun tuk melihatnya?
Bisa jadi aku terlalu kagum akannya
Entah
Ada yang terpatri dalam ingatan
12/09/98
Tak Beranjak
Belum juga beranjak meski batas cakrawala mulai bergerak
Tatap nanar, birkan benak mengembarai tiap sudut kehidupan
Angin sentuh helai rambut ikal yang terurai, belai diri yang mulai beku
Tak ada harap pun impian berkelebat dihadapan
Satu keinginan terlintas kala diri bertumpu di batas hampa
Ingin tak jadi keinginan, harap tak jadi harapan
Belum juga beranjak meski batas cakrawala mulai bergerak
Laburkan diri pada hidup di penghujung senja
Gapai batas cakrawala bergerak
Panggil angin lembut sapa
Ingin gerak, lewati sekat himpit jiwa
Tapi
Ada yang tak ingin beranjak dan angin enggan bawa pergi
15/09/03
9:34 am
Kuberikan
Ada percikan darah harus aku bagi denganmu, agar tau warna darah
Ada sepotong hari harus kau lihat, agar kau mengerti berapa bagian hati aku miliki
Ada hembusan nafas harus sama-sama kita hirup, agar kau rasakan mana sesak dan mana lega
Ada telinga harus kau pasang, agar kau paham kapan suara terdengar dan kapan harus pura-pura tuli
Ada kaki harus kau lihat, agar kau yakin kapan melangkah dan kapan kau berhenti
Ada sesuatu harus aku berikan padamu, agar tak tinggalkan aku
17/09/03
09.15 pm
Butiran Pasir
Ada butiran pasir dalam genggamanmu, banyak
Butiran-butiran kecil yang terkadang terasa halus, terkadang kasar
Butiran itu telah aku berikan padamu untuk kau simpan baik-baik dalam genggamanmu
Jangan kau pegang terlalu kencang
Tak baik kau pegang butiran-butiran pasir itu bila kau menggenggamnya seperti itu
Lihatlah bila kau genggam butiran pasir itu terlalu kencang, ada yang jatuh
Sebutir pasir
dan oh
ada lagi yang berjatuhan
!
Makin kau pegang kencang maka itulah yang akan terjadi kau menjatuhkan butiran pasir itu, kamu tau apa yang akan terjadi bila ku pegang lagi butiran pasir itu bila kau pegang makin kencang lagi?
Yap
butiran pasir itu akan hilang dan habis dari genggamanmu dan kamu telah menyalahgunakan kepercayaanku
Aku telah mempercayakan butiran pasir itu padamu
Jagalah baik-baik untukku
22/09/03
8:03 am
Selamat Pagi Berajaku
Pagi beraja
Matahari sentuh wajahku pagi ini, hangat tubuhku
Pagi beraja
Langit berwarna biru, jingga, dan entah paduan warna apalagi, indah terlihat
Pagi beraja
Angin bertiup perlahan menyapu rambutku yang terurai, dingin terasa
Pagi beraja
Seekor burung bertengger di ranting pohon lagukan harmoni pagi ditelingaku, merdu terdengar
Pagi beraja
Air basuh mukaku, sejuk kurasa
Pagi beraja
Mulai hariku, berbunga hatiku denganmu
Selamat pagi berajaku
22/09/03
8:21 am
Wangiku
Ada menggelitik hidungku, menyebar, tebarkan wangi di segala penjuru kamar yang aku tempati saat ini
Lembut, mengalir bersatu dengan desiran angin yang bertiup di sekelilingku, wangi yang begitu asing bagiku
Wangi bunga? Wangi makanan? Wangi tanah? Wangi
?
Tak tau, tak paham, namun wangi itu masih saja bermain-main disekitarku, menelusup ke sela hidung-hidungku, mengisi paru-paruku, mengalir ke dada, terasa di tangan, menyentuh kaki, membuatku menggelepar tak berdaya
Wangi asing yang membawaku ke dunia asing, dunia khayal, dunia mimpi, dunia tanpa batas
Terbangkanku, sentuhkanku pada langit kelam, langit terang, langit berjuta paduan warna
Wangi itu masih temaniku, terasa mengalir disetiap pembuluh darhku, membuncah dari tubuhku
Tubuhku kini tebarkan wangi, membuat semua orang memandangku
Ada senyum, ada tangis, ada haru, ada lega, saat semua orang cium wangi yang keluar dari tubuhku, menyebar menuju penjuru-penjuru ruang yang ada
Aku tebarkan wangi pada setiap sudut
Aku tebarkan wangi kematian di seluru penjuru
25/09/03
1:36 pm
Pikirku
Maaf bila aku tak mempercayaimu
Maaf bila aku meragukanmu
Maaf bila aku merasa menggadaikan diriku
Maaf bila aku merasa takut
Maaf bila aku tak ingin menemuimu
Maaf bila aku tak menginginkanmu
Maaf kau tak layak untukku
Maaf kau memang terlalu agung untukku
Maaf kau terlalu suci untukku
Maaf kau tak punya arti buatku
Maaf kau memang bukan pilihanku
Maaf kau memang bukan untukku
Maafkan aku pernikahan
Maafkan aku perkawinan
Aku belum lagi mempercayaimu
Aku belum lagi menginginkanmu
Aku memang belum siap atau mungkin tak akan pernah siap
Biarkan aku susuri hidupku
Biarkan aku sentuh inginku
Aku terlalu naif untuk temuimu
Aku terlalu munafik untuk memilihmu
Aku perempuan yang terbiasa sendiri
Aku perempuan yang hanya memiliki pikiran
Aku perempuan yang tak mau berbagi
Aku perempuan yang tak ingin terikat
Aku perempuan yang tak ingin mengikat
Aku perempuan yang tak mempercayai pernikahan
25/09/03
1:50 pm
|
|