Garpu TaLa
Oleh : ARie DAndaraga
lost_all_self_control>hi
Laras^Hati>hi juga
Laras^Hati>asl pls
lost_all_self_control>gue tara, 22 f bdg
Laras^Hati>oh kamu ce toh
Laras^Hati>aku pikir kamu co
lost_all_self_control>emang kenapa?
Laras^Hati>hehehe
lost_all_self_control>loh kok malah ketawa sih
*lost_all_self_control bingung
Laras^Hati>itu nick kamu co banget
Laras^Hati>mana nama kamu tara, kayak co aja
Laras^Hati>aku kira kamu co
Laras^Hati>gak tahunya sama sama ce
Laras^Hati>LOL
lost_all_self_control>lo tuh cerewet ya?
Laras^Hati>LOL
lost_all_self_control>malah ketawa :(
Laras^Hati>duh ngambek
lost_all_self_control>eh asl dong
Laras^Hati>sama kayak kamu
*Laras^Hati laras 22 f bdg
lost_all_self_control>laras? nice name
Laras^Hati>it is very kind of you ^_^
Kamu ingat pertama kali kita kenal? tiba tiba saja Laras membuka suatu obrolan yang topiknya sama sekali tidak diduga. Tara urung menghirup kopi yang baru saja diseduh oleh Laras. Dia kembali menaruh cangkir kopinya di meja makan. Dan kemudian menoleh ke arah Laras dengan sorot mata keheranan. Ada apa kamu tiba tiba menanyakan hal seperti itu? Tara balik bertanya. Something wrong? disusul sebuah pertanyaan dengan nada khawatir terucap dari mulut Tara. Laras tak menjawab pertanyaan itu, dia hanya tersenyum kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke arah tumpukan roti tawar yang ada di hadapannya.
Pagi itu mentari tersenyum riang di langit pagi kota Bandung. Mendung yang biasanya setia menaungi langit yang dijuluki kota kembang itu, kini menghilang entah kemana. Ditambah dengan udara yang cukup segar, bersih serta belum terkotori oleh polusi kendaraan bermotor, membuat pagi itu cukup meyenangkan bagi para penduduknya untuk memulai sebuah hari yang baru.
Setiap hari adalah hari yang meyenangkan untuk Tara dan Laras. Sepasang kekasih yang tinggal di sebuah rumah kecil di sudut kota Bandung. Rumah mereka memang jauh dari pusat kota, tetapi itu memang disengaja. Mereka sepakat ingin hidup di daerah yang dekat dengan pegunungan. Dengan logika, bahwa udaranya masih bersih dan sehat. Sehingga tak mengapa perjalanan jauh yang harus mereka tempuh bila hendak bepergian untuk bekerja atau membeli keperluan sehari hari maupun untuk sekedar hang out ke pusat kota. Rasanya kelelahan akibat perjalanan jauh itu telah terbayar dengan kicauan riang burung burung dan kesegaran udara yang setiap pagi mereka nikmati.
Dear are you okay? Youre not answer my question. Sederet tanya kembali dilontarkan oleh Tara. Sebelah tangannya bergeser hendak mengenggam kedua tangan Laras yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Tak mengherankan dengan tinggi badan 170 cm, dua puluh cm lebih tinggi dari pada tinggi badan pasangannya, Tara dapat mengenggam kedua belah tangan Laras dengan mudah. Bagi Tara, Laras dapat diidentikkan sebuah kurcaci mungil yang dengan mudahnya tenggelam dalam pelukannya.
Sepasang kekasih itu memang perpaduan yang unik, baik dari segi fisik maupun karakter yang dimiliki oleh keduanya. Tara yang tinggi dan berbadan tegap pada dasarnya adalah seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Mantan atlit bela diri, yang pernah mengharumkan nama bangsanya di kancah Internasional ini, lebih banyak berbicara lewat tulisan daripada mulutnya. Maklumlah kini dia adalah seorang penulis lepas, yang setiap minggunya rutin mengirimkan berbagai macam tulisan ke berbagai media cetak. Pembawaannya yang pendiam seringkali terkesan misterius bahkan arogan. Maklum, sedari kecil dia memang dibiasakan untuk lebih banyak bertindak daripada berbicara. Hingga akhirnya sulung dari 4 bersaudara itupun menjadi seorang butch yang tidak banyak bertingkah. Sedang Laras adalah tipikal perempuan yang ceria. Dimanapun dia berada selalu kegembiraan yang ditularkannya ke sana kemari. Perempuan berbadan mungil yang kini bekerja sebagai seorang PR di salah satu hotel terkenal di kota Bandung itu mampu membuat suasana semuram apapun berubah menjadi riang dan penuh keceriaan. Hanya terkadang terlihat sikap Laras yang masih bisa dibilang kekanak kanakan. Maklumlah, berbeda dengan Tara yang lahir sebagai anak sulung, Laras adalah bungsu dari 6 bersaudara. Hingga sedari kecil dia selalu menerima begitu banyak tumpahan kasih sayang dari kakak kakak dan orang tuanya. Itu juga yang akhirnya membuat dia sedikit manja dan kekanakan.
Seringkali bila ditilik dari sudut kesamaan, sepasang kekasih itu tampaknya memang sama sekali tidak memiliki kesamaan. Baik dari sudut sikap dan karakter maupun dari sudut fisik sekalipun. Tapi mungkin ketidaksamaan itulah yang membuat mereka mampu menghargai pasangannya masing masing, sehingga kehidupan rumah tangga mereka selama 2,5 tahun hampir tak pernah mempunyai kendala berarti. Sikap Tara yang lebih kalem dan tenang mampu mengeliminir sikap ramai Laras yang meledak ledak. Namun keceriaan dan kegembiraan Laraslah yang mampu membuat Tara tidak terlalu terpaku dalam kesendiriannya dan mau merubah sikapnya yang misterius untuk sedikit terbuka.
Larasati Sari! Are you really ok? Youre not a stone! Do you? Answer me dear! Suara Tara kini terdengar memerintah, tampaknya dia mulai terlihat kurang sabar. Ditariknya kedua belah tangan Laras ke arah dadanya, membuat Laras mau tak mau memutarkan badannya ke hadapan Tara. Tapi Laras lagi lagi hanya tersenyum kemudian memandang Tara dengan kedua mata yang berbinar lembut. Im ok dear. Dont look seriously like that. Kamu tuh....selalu aja menghadapi semuanya dengan serius. Nyantai dikit kenapa sich? Dengan santai Laras menjawab pertanyaan Tara, dia memang terbiasa menghadapi Tara yang kaku dan menghadapi semua masalah dengan keseriusan yang terkadang terkesan berlebihan. Lalu kalau tak ada apa apa kenapa kamu tiba tiba menanyakan hal itu. Pakai acara rahasia rahasiaan segala. Aku khawatir! Nada bicara Tara sedikit mereda, tapi genggaman tangannya makin kuat.
Laras memandang lembut kedua mata Tara, sepasang mata yang membuatnya tergila gila dengan seorang Tara. Dua buah mata yang berwarna cokelat dengan sepasang alis yang tebal diatasnya. Sekalipun kini Tara memakai kacamata, kacamata itu sama sekali tak mengurangi kemistisan sinar mata seorang yang amat dicintainya itu. Kamu lupa ya hari ini hari apa? Kali ini Laras yang bertanya. Hari ini? Hari ini hari Rabu, tanggal 10 Agustus 2005. Hari ini kamu harus meeting dengan bosmu untuk membicarakan masalah launching program bulan depan. Dan aku harus segera mengejar deadline naskah tulisanku. Dengan lancarnya Tara menjawab pertanyaan Laras.
Kemudian dia terlihat sedikit berpikir dan berbicara kembali. Thats all! Gak ada schedule lain yang mendesak untuk kita berdua hari ini kan? Kecuali mungkin liburan akhir minggu nanti, kita sama sekali belum bicarakan hal itu. Gimana kalau nanti kita keluar buat makan malam dan bicarakan hal itu. Udah lama kan kita gak ke Kampung Daun? Begitu semangatnya Tara berbicara dan itu membuat Laras tertawa. Lho kok malah ketawa? Kamu gak mau ke Kampung Daun? Ya udah, kita gak usah pergi. Tapi gak usah ketawa kayak gitu dong! Nada suara Tara kembali meninggi, sepertinya dia tersinggung ajakannya ditanggapi dengan sikap yang berbeda dengan harapannya. Aduh sayang. Kamu tuh selalu aja gampang marah. Iya, aku mau ke Kampung Daun nanti malam. Udah lama kita gak pernah keluar berdua. Tapi....selain bicarain masalah liburan kayaknya kita harus ngerayain sesuatu Sebelah tangan Laras mengusap lembut pipi kanan Tara, sebuah pipi dengan rahang yang kokoh. Bersih tanpa noda jerawat sama sekali. Anniversary? Lho hari ini kan bukan tanggal kita married, itu kan tanggal.... tiba tiba suara Tara menggantung di udara, tanpa sadar dilepasnya genggaman tangannya untuk kemudian perlahan melepas kacamatanya. Ciri khasnya bila dia kesulitan mencari ide untuk tulisannya dan tiba tiba saja dia mendapat ilham, namun kini bukan ilham yang didapatnya tetapi sebuah ingatan tentang kejadian tiga tahun lalu yang merubah semua kehidupannya dalam hitungan detik.
Oh my God! I forgot! Ini kan.... belum selesai Tara berkata apa yang ingin dia katakan, Laras sudah memotong ucapannya. Kedua belah tangan Laras ditempelkan ke pipi Tara, kemudian dia mendekat hingga kedua muka mereka terpaut hanya beberapa inci saja. Yup dear. Kamu bener. Hari ini tepat tiga tahun yang lalu kita pertama kali mengenal. Yahoo Messanger, channel Indonesian Women. lost_all_self_control yang pemarah dan gak sabaran pv aku, Laras^Hati, dan tanya asl aku. Happy Anniversary dear. Its a pleasure to met you three years ago. Bibir mungil Laras mendekat dan kemudian dia mencium lembut seorang Tara. lost_all_self _control yang pemarah kini telah menjadi suaminya selama lebih dari 2 tahun. Betapa masa itu terasa baru saja terjadi kemarin. Dan ciuman lembut itu seakan akan sebuah mesin waktu yang membawa mereka berdua kembali ke masa masa awal pertemuan mereka. Semua rasa mengalir diantara sepasang bibir yang menyatu. Bahagia, haru juga cinta. Ciuman itu bercerita lebih banyak daripada yang bisa diungkap lewat kata kata.
Sebuah tarikan nafas memutus ritual manis tersebut, kini keduanya terpaku dan hanya saling memandang. Seringkali hal hal sederhana seperti itulah yang mampu bercerita lebih banyak dibandingkan kalimat yang lahir dari lidah tak bertulang. Mata adalah jendela dunia, begitu seorang psikolog terkenal berbicara, namun bagi mereka mata adalah jendela jiwa. Dengannya semua bahasa yang terlahir didalam mampu dimengerti tanpa banyak bicara.
Taralah yang mulai bersuara, memecah keheningan yang cukup lama berjalan. Dipasangnya kembali kacamata yang tadi sempat dilepasnya. Kemudian tangannya kembali bergerak menggenggam sebuah tangan mungil yang tadi sempat didekapnya. Bilamana aku mencintaimu, adalah ketika setiap pagiku...... Hadir karenamu, tercipta untukmu Sebait puisi yang belum selesai Tara ucap, diselesaikan sempurna oleh Laras. Puisi untuk Laras, yang dibuat oleh Tara, ketika pertama kalinya dia beranikan diri nyatakan cinta di hadapan Laras. Tara tampak tersenyum bahagia, tanpa banyak bicara ditariknya lembut Laras kedalam pelukannya. Dalam dekapan lembut itu Tara berbisik lembut, I love you dear. More than I can say, more than I can do, more than I can give. I love you more than I know. Dipeluknya tubuh mungil itu semakin erat, seakan ingin membuatnya menyatu bersama dirinya. Laras memang bukan wanita sempurna yang dia idamkan untuk menjadi seorang istri. Tapi Tara tahu, pun bukan dia yang paling sempurna, Laras adalah wanita terbaik untuk dirinya. Tuhan yang memberinya anugerah terindah ini dan Tara tak ingin mengkhianati anugerah Tuhan ini.
Suara isak yang sekalipun lirih terdengar kemudian oleh sepasang telinga Tara. Isakan yang kemudian diikuti oleh bahu yang mengguncang lembut. Membuat Tara sedikit terkesiap, kemudian mendorong tubuh Laras hingga mampu dilihatnya air mata yang mengalir pelan di wajahnya. Kok nangis? Kali ini Tara yang balik tersenyum, diusapnya dua butir air mata yang terlanjur menetes dengan ujung telunjuk kanannya. Stok air di kantung matanya dah numpuk ya? Sampai sampai dipeluk sedikit langsung meluap keluar Suara Tara kini terdengan jahil, bibirnya yang tipis sunggingkan senyum nakal demikian juga dengan binar matanya yang terlihat bersinar.
Lalu dengan sikap seperti seorang kakak yang sedang menasihati adiknya, dia tepukkan tangannya di atas kepala Laras sambil berkata. Cup....cup....cup...Adek manis, udah jangan nangis lagi. Balonnya lepas ya? Ya udah ntar kakak belikan lagi balon yang sama. Ditambah cokelat toblerone warna putih dech Tara berkata sambil menepuk kepala Laras, tetap dengan nada jahil. Gak mau!! Maunya es krim! Bukannya cokelat! entah karena kesal diperlakukan seperti anak kecil atau memang tak suka cokelat Toblerone. Laras menampik tangan Tara dan berbalik duduk di kursi semula dia tadi duduk. Tara pun tertawa terbahak bahak, sebelum akhirnya duduk di tempatnya semula. Menghirup kopi yang tadi urung diminumnya. Barulah kemudian dia berbicara dengan suara menahan tawa.Iya dech...maaf. Gak bakal nganggep kamu kayak anak kecil lagi. Gentian dong tadi kamu yang main tebak tebakkan, sekarang aku yang jahilin kamu impas kan? Tak kuasa menahan tawa dia kembali tertawa terbahak bahak.
Katanya udah, kok masih ketawa? Kembali Laras mendelik ke arah Tara yang masih terbahak. Kamu kan tahu, aku emang gampang nangis. Apalagi kalau ada moment spesial kayak gini. Sambil terus mengomel dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda, memuat sarapan pagi untuk Tara dan dirinya. Setangkup roti yang diolesi margarin dan cokelat untuk Tara, sedangkan untuk dirinya sendiri cukup roti yang diolesi selai kacang. Lagian salah sendiri jadi orang pelupa. Diingetin malah dibilang ngejailin. Heran! tetap dengan nada mengomel Laras berbicara, roti untuk Tara ditaruhnya di atas piring kemudian diletakkannya di depan Tara yang kini berusaha untuk menahan tawanya.
Iya maaf dech, Ra yang salah. `Ntar malam La boleh pesen makanan apapun yang La pengen di Kampung Daun. Hitung hitung Ra hilangin salah. Tapi....jangan manyun kayak gitu ah! Mpok Ati kesaingin dech Kembali Tara tertawa terbahak bahak, tapi kemudian tawanya berubah menjadi teriakan mengaduh. Ketika Laras yang tidak tahan mendengar Tara yang terus menjahilinya, melancarkan serangan ampuhnya. Dia menggelitik pinggang Tara yang dia tahu adalah titik terlemah Tara yang tak boleh disentuh. Sebab Tara tak akan kuat menahan geli.
Aduh ampun dear. Iya amp.....aduh......Ra gak tahan nie. Tara berusaha mengelak dari serangan beruntun Laras, tapi dia tak kuasa menolak. Rasain! Dari tadi bikin kesel!Tahu rasa sekarang! Laras kini menggelitik sambil tertawa riang. Tangannya dengan lincah terus menggelitik. Dendamnya terbalas sudah. Dan tiba tiba...Bruk! Sangking bersemangatnya mereka berdua terjatuh dari kursi makan tempat mereka duduk tadi. Sunyi senyap untuk sesaat dan kemudian Hahahahahah.......... Keduanya bersama sama tertawa terbahak bahak menyaksikan diri mereka sendiri terjatuh.
Tara yang pertama kali bangun dan sambil tetap tertawa dia mengangkat Laras untuk ikut bangkit. Ada yang luka dear?....Hup..hahahahha.... Sambil menepuk nepuk kemejanya Tara bertanya. hehehhehe........gak kok gak ada. Aduh, kita berdua childish banget sich! Sambil tertawa Taras bangkit. Hehehe......udah turunan kali. Bener gak ada yang luka? Kini Tara yang balik menepuk blus biru yang dipakai Laras. Gak kok dear, gak apa apa. Eh iya, cepetan abisin kopi ama rotinya. `Ntar kopinya keburu dingin, udah jam 7 lebih nie. Kamu jadi kan nganter aku ke kantor? Laras memandang jam tangan mungil berwarna merah hadiah ulang tahun terakhirnya dari Tara.
Upss....Iya bener! Jam 7 lebih! Ya udah kamu siap siap sana. Lima belas menit lagi kita pergi, aku jadi kok nganterin kamu. Tapi, rotinya dimakan dulu atau mau dibungkus aja? kembali duduk Tara untuk menghabiskan kopi dan sarapan paginya. Gak usah dech aku makan aja `ntar di mobil. Aku belum dandan nie Laras beranjak pergi menuju ruang tidur utama di samping ruang makan tersebut. Dan akhirnya Tara yang telah selesai menghabiskan sarapan paginya beranjak pergi untuk membungkus roti Laras yang belum dimakan.
Setelah itu dia berjalan menuju garasi. Dinyalakan mobilnya untuk sejenak dipanaskan. Maklum mobil tua memang harus diberi perhatian lebih. Setelah dirasanya cukup, Tara mengeluarkan mobilnya. Ditutupnya garasi dan pintu pagar, kemudian berdiri di samping mobil menuggu Laras. Akhirnya setelah 10 menit, Laras keluar dengan setumpuk paper yang nanti harus dipresentasikan dihadapan pimpinanannya. Membuat feroza biru itu tampak semakin penuh sesak dengan berbagai barang. Udah gak ada yang ketinggalan lagi? Tara mengingatkan Laras, Mmm....udah kok. Semuanya dah dibawa termasuk paperku itu. Ya udah pergi yuk jam setengah delapan lebih nie! Laras menjawab. Ok....Bismillahirrahmanirrahiiiim dengan ucapan basmalah Tara memasukkan gigi satu kemudian menginjak pelan pedal gas mobilnya. Meluncurlah mobil feroza biru tua yang bernomor T 4 LA itu, menuju pusat kota bandung. Senyuman mentari dan kicauan burung seakan ikut mengantarkan sepasang kekasih itu pergi jalani hari baru yang telah kembali terbentang.
Sekitar 22 Oktober 2003
Entahlah jika tak tepat......
|
|