Perempuan Dasar Hati
Penghujung malam, wajah temaram
Wajah terbayang jiwa melayang
Kunanti kau perempuan di dasar hati
di penghujung malam dengan wajah temaram
diantara wajah terbayang jiwa jiwa melayang
Kutunggu engkau perempuan dalam dasar hati
dengan penghujung malam tak berkesudahan
wajahmu berbayang lembutnya temaram
Saat wajah wajah melayang dan jiwa jadi bayangan
Tetap ku menunggumu duhai perempuan yang bersemayam
Dasar hati tetaplah tak berdasar pun penghujung malam terus berganti
wajah wajah dalam bayangan tak terhindar mengendap dalam hati
melayang untuk terbang untuk kembali hinggap di dasar hati
Kunanti kau duhai perempuan yang menjelma dalam hati
Karena dengan hadirmulah semua segala kan menjadi nyata
Semua melayang segala bayangan lalu musnah bila kau tiba
Kupinta kau perempuan yang tersenyum di dasar hati
Kumohon kau perempuan yang terberkati atas nama hati
Kunanti kau kini perempuanku, selalu....
Kunanti kau perempuan dasar hati, selamanya....
Aku milikmu....
Menantimu ditemani Firasat sendu...
Bandung, 17 November 2003
ARie DAndaraga
Menjadi Bijak....
Ajari aku berlapang dada
Menerima apa yang ada
Dan bukannya membangkang berteriak angkuh
Ajari aku ikhlas menerima perih
Tegar hadapi semua tersisa
Dan bukannya menangis habiskan air mata
Ajari aku mencinta tanpa syarat
Dengan kelegaan yang jadi biasa
Dan bukannya meradang tinggikan ego
Ajari aku menjadi dirimu
Tanpa aku harus milikimu
Dan bukannya lepaskan hatiku untukmu
Tuhanku, aku mencintainya...
Bandung, 18 November 2003
ARie DAndaraga
Teruntukkanmu, Perempuan Yang Kuanggap Bidadari:
Selamat malam duhai perempuan yang penuh rahasia
Adakah cerita yang belum kau bagi denganku,
hingga bisa kubawa terbang jadikannya mimpi malam ini.
Pun ruang yang tetap penuh berisi rahasia dan gurauan kecilmu tentang arti hidup, adakah yang belum aku masuki?
Seringkali aku berharap kau adalah bidadari
Yang tunjuk aku jalan tuju bahagia, tuntun aku tapaki liku dunia.
Sayapmu kau lipat dalam hatimu, tebarkan senyummu untukku
Seringkali kau tampak layaknya bidadari untukku
Adakah kau memang bidadari yang diturunkan dari langit?
Emban tugas luruskan hidupku yang lama punggungi Tuhan?
Apakah sebenarnya kau utusan pribadi sang Raja?
Seberat apakah amanat yang kau punya, duhai perempuan laksana bidadari?
Lalu aku mulai berkhayal, bangun impian di kepala
Ketika seluruh tugasmu usai
Kau kan tersenyum, sayapmu yang terlipat mengembang kembali,
dan kau pun terbang kembali ke pangkuan Raja yang milikimu.
Tinggalkanku dengan senyum yang masih terus tertinggal di hati
Senyumanmu terus terngiang, berbayang lembut di mataku
Tahukah kau? Kau teramat cantik bila tersenyum
Matamu bercahaya, amat sangat, hingga ingin kumasuki binar dalam titik hitam, lebur didalamnya.
Kau sungguh bidadari untukku, lembut penuh sentuhan tenangkan aku. Jawablah jujur... bidadarikah kau ini?
Malam ini sepertinya aku rindukanmu sangat duhai perempuan yang kuanggap bidadari.
Adakah juga kau rindukanku kini?
Jangan pergi bidadari, tetaplah disini peluk hati yang terus mengigil.
Peluk aku bidadari, tetaplah memelukku hingga pagi gantikan malam, sampai saat senja tutup matahari.
Jangan pergi bidadariku, bahkan kini aku berani sapa kau dengan panggilan itu, bidadariku....
Kau tahu aku butuhkanmu amat sangat, kau tahu aku cintaimu teramat dalam.
Jangan pergi bidadariku, kasihku teruntukkanmu...
Sudahkah mimpi menjemputmu, duhai perempuan yang kupanggil bidadari?
Bandung, 20 Nop. 03
ARie DAndaraga
Bermimpi Dengan Manisku
Terlelapkah kau kini manisku?
Ada dimana ruhmu kini, melayang terbang bentangkan impian?
(Kusentuh lembut wajahmu dengan seluruh jemari hatiku)
Kurasa kau bernafas teratur, tenang, nyenyak.
Sungguhkan sempurna tidurmu kali ini manis?
Dan aku jadi bertanya. Apa, siapa yang buatmu terlelap begitu indah?
Adakah kau kini terawang malam dengan aku dalam genggaman?
Petik bintang bersama, Pandang malam berdua.
Setelahnya rebah di atas awan gumpalan kapas.
Timbul iri setitik di hatiku, aku ingin bermimpi denganmu.
Bolehkah aku? Tidurkan raga, layangkan ruhku untuk kemudian terbang bersamamu?
Kau ijinkanku atau tidak?
Jawablah dengan senyuman, kau tak perlu terbangun untuk menjawabnya.
Manisku yang kucinta, teramat cantik bila tersenyum
Bermimpi bersamamu, terbang disampingmu.
Tidur dan bermimpi bersamamu...
Anugerah yang cukup bahagiakanku...
Mimpi indah manisku.....
Kuharap kau tak berkeberatan, manis
Bandung, 27 Nopember 2003
ARie DAndaraga
Ambigu
Lepaskan beban! Jalan sudah ditempuh
Tak ada lagi yang bisa kubuat
Lelapkan bara! Cerita baru saja terbentuk
Apalagi yang kuminta? Tuhan cukup memberi
Perih Luka telah terpahat
Haruskah aku jadi pecundang kembali?
Jangan biarkan malam hampiriku. Aku ingin melayang
Sendiri, tak dengar apapun. Tak tahu apapun
Karena dia masih ada?
Di hati, di jiwa, dalam nadi mengalir dengan darah!
Aghh!!
Kebodohan Tuhan?! Tuhankan Kebodohan?!!
Takut....!!!
Cirebon, 29 November 2003
ARie DAndaraga
Kenangan
Apa aku bisa bertahan?
Dengan semua kenangan yang menahan
Dan seluruh kehausan untuk pelukan
Lewati hari hari kenangan
Sadari sendiri keberadaan
Sungguhkah aku mampu bertahan?
Sama sekali tak ada tangisan
Teriakan, hinaan, celaan
Untuk Tuhan yang mendengarkan
Dimana semua genggaman, pelukan, senyuman?
Aku merangkak dalam kegelapan!
Sesak, Pengap, Hampa!
Bandung, 3 Desember 03
ARie DAndaraga
Atas Semua Yang Terjadi
Aku takkan mengeluh
Apa yang terjadi mesti, pasti kuhadapi
Atas kepalan, tangisan, pelukan
Pun air mata, darah dan nyawa
Ini janji hidupku, baktiku hidupku
Aku tlah sumpahkan namaku,nafasku
Semua getar hidupku bertalu didalamnya, atas namanya
Perempuan yang kusalibkan takdirku padanya, dihatinya
Aku takkan mengeluh, takkan pernah menyerah
Pastikan semua ini, saat nanti aku tiba
Bandung, 7 Desember 03
ARie DAndaraga
Kemarahan
Aku terbungkam diam
Kepalan, genggaman, mengeras!
Tanganku mengepal, Tanganku menggenggam
Hatiku acungkan tinju, keras!
Dia milikku, bungkamkan semua egomu, nafsumu
Dihadapmu dia milikmu, terdekapmu!
Dihatinya aku miliknya, tersalibnya!
Menanglah kau tuk malam ini, dekap dia puas?!!
Hadapi aku esok, lusa, berbilang tahun, puluhan!!!
Pertarungan atas nama cinta,
Aku menantang Kamu!!!!!
Buka hatinya, aku tlah menang sedari awal...
Bandung, 7 Desember 03
ARie DAndaraga
Kesabaran Mentari
Kau mentari bersinar
Terkadang memang terlampau terik,
Kadang tersipu malu, menggemaskan!
Kau mentari bersinar
Menciumku malu malu di awal hari
Bisikkan rindu selalu kala aku menutup mata
Kau mentari bersinar
Cari bayangan setia mengikuti tuk hidupmu
Aku lama jadi bayang kadang terkungkung malam
Kau mentari bersinar
Nantinya aku jadi milikmu
Bersabarlah....
Tunggu aku, maukah kau?
Bandung, 7 Desember 2003
ARie DAndaraga
Bukti Atas Janji
Aku tak pergi, sekedar beranjak pun tidak
Yang kulakukan menepi, duduk diam di sudut ruangmu
Pandangimu, sambil coba mengerti apa yang sebenarnya terjadi?
Aku tak pernah pergi, sekedar terlintas pun tak pernah
Renungkan semua kata amarah
Pahami hatimu yang mulai menangis
Aku tlah berjanji takkan pernah pergi, karenanya aku takkan pergi
Atas semua yang terjadi, seringkali memang tak pasti
Karenanya aku hanya terdiam duduk di sudut hati
Pandangi raut wajahmu penuh gelisah
Artikan amarahmu dalam gundah
Menerenungi lantas memahami, seringkali memang tak mengerti
Ah sudahlah! Kini saatnya aku bangkit bergegas peluk dirimu
Toh pada akhirnya kau kan tahu aku tahu,
Cinta ini memang sungguh adanya
Kita kembali membaik, akhirnya..
Bandung, 8 Desember 03
ARie Dandaraga
Gundah...!
Aku ingin pergi!
Biarkan aku pergi, dan kumohon jangan salahkan aku atas apapun.
Ini pilihanku seperti kau memilih hidupmu
Walau apa yang kupilih, aku pun tak tahu
Aku hanya ingin menangis, sendiri
Sadari diri sendiri memang sendiri
Pun kau kata kau ada disisi, mengertikah kau dilubuk aku sendiri?!
Sepi... menyepi... Tepi... menepi
Aku hanya ingin tersadar, menyadarkan diri
Bahwa ini yang terjadi, ini yang harus terjadi
Dan bila semuanya tak mampu terjadi, relakan ini untuk berakhir...
Karena aku ingin berteriak! Membentak keras!!
Karena aku marah! Kecewa! Terluka!
Karena aku ingin melupakanmu...
Karena aku....
(..... terhenti sejenak, biarkan bulir mengalir....)
sakit bila mengingatnya, seringkali tercenung setiap kali
Lalu....?
Maafkan aku, tapi aku harus pergi. Selamat tinggal...
Hujan kelam, 12 Des. 03
ARie DAndaraga
Ada
Ada berkas, selintas mengerjap untuk kemudian hilang.
Setidaknya tenangkan hati...
Bermimpi tentang seorang kamu yang kini melekat erat di hati, sedikit gundah ketakutan atas kehilangan.
Tapi setidaknya cinta ini mengisi hati...
Ada kamu dalam mentari pagi, terpaan panas matahari; seringkali terlampau terik, malam yang terlalu kelam senantiasa kelam, hujamkan ketakutan pasrah atas namamu.
Setidaknya aku tak mengeluh pun sesali semua.
Ada rindu kini mengalir atas namamu, sentuh sesuatu. Ada yang mengalir kini di wajahku...
Ada rindu teramat sangat, pelukkan kamu dalam dekapku.
Sungguh aku menantimu... Kini dan selalu...
Bandung, 17 Desember 2003
ARie DAndaraga
Hadapi
Mengeringkan tangis
Saatnya harus dimulai, saatnya kuatkan hati
Berpaling atau tidak saat ini memang harus terjadi, dihadapi
Perlahan memang tak pasti,
Tapi setidaknya menanti
Atas apa yang memang dan mampu terbukti
Ada dan menghilang satu persatu jadi air tak hilang mengalir
Lemparkan saja semua perih
Aku yang meneguknya habis
Habislah sudah perkara hati
Remuklah sudah kaki sendiri
Aku menatap langit
Sedikit menantang namun ada rasa terimakasih
Aku menunduk, tundukkan hati
Asa kembali menari, berseri
Bandung, 19 Des. 03
Arie DAndaraga
Untuk Dipa
Tersenyum Teman
Apa yang terjadi harus terjadi.
Pun diingkari, jejaknya terpatri
Aku mengerti ada getir di sanubari
Nikmati sajalah!
Perih pasti mengiringi setidaknya kau tak ikut terhanyut
Aku disini, kami semua disini
Tak perlu sungkan untuk berbagi
Kita diikatkan untuk menguatkan
Tegakkan kepalamu,
Dan tersenyumlah kawan!
Aku ada, Kami semua selalu ada....
Sabar Dip, semua pasti bermakna. Tegar ya pal!
Bandung, 19 Des. 03
Arie DAndaraga
Di Batas Semua Antara
Untuk semua hal yang membuatmu berpikir aku tersakiti,
Kau salah!
Atas nama rasa yang terbilang
Sebagai sedih, duka, kecewa, bahagia, suka.
Aku cukup menikmatinya.
Aku kini berdiri di batas semua antara.
Bahagia dan tidak
Sedih dan tidak
Bertahan dan menyerah
Menjawab tantangan dan kalah.
Aku berdiri di batas semua antara.
Tidak menyesali, tidak memuji
Hanya tahu melangkah, walau sempat terpikirkan
Apakah ini sebenar benar melangkah?
Aku berada di atas batas hitam dan putih
Aku berada di atas keduanya
Dan aku beranjak menjadi abu
Abu dalam tubuh dan jiwaku
Kalau ini sebuah topeng,
Yang batasi aku antara semua antara.
Aku tidak menyesal
Entah memang sampai kapan,
Tapi setidaknya aku tidak terhanyut.
Aku hanya mencoba bertahan,
Dengan diriku sendiri...
Bandung, 24 Des. 03
ARie DAndaraga
Pemahaman baru. Perjalanan baru. Sesaknya kalbu
Aku tak mengeluh
Tak menangis, tak berhenti atau bergumam
Aku tak teteskan air mata
Tak menjerit penuh kesah, tak berteriak marah
Aku tak meminta
Tak bertanya apapun, menjawab apapun
Tak pergi, tak juga berdiam diri
Tidak menantang datangnya pagi, tidak bersembunyi
Aku tidak mengeluh
Tidak berarti berpikir bijak, tidak berniat menjadi jahat
Aku tidak bertahan
Tidak sekedar mengalir, mencoba belajar
Aku mencoba mengerti, memahami
Karenanya aku tak mengeluh
Apapun, siapapun, datang pun pergi, toh aku tetap seperti adanya.
Rasa didalam yang membentukku, aku kini coba mengaturnya.
Bandung, 24 Des. 03
ARie DAndaraga
Ditemani Rindu
Sedang termenung atasku malam ini, manis?
Malam ini memang syahdu, senyum manismu berbayang di pelupuk
Kutahu kau ada dan memang ada
Membeku meradang jadi satu di dada
Aku rindu kamu, manis
Bayangkanmu dalam peluk, aku menggigil karenanya.
Aku mencintaimu....
Dengarkan degupku, setiap kali memanggilmu
Hampir tak kuasa tahan lesakan di dalam
Senyummu Parasmu Sentuhmu
Lembut suaramu Pelukmu Tangismu
Entah kenapa...
Kurasa kau dekat di kalbu,
Hangatiku luruh.
Mimpilah indah manisku
Bawa aku di dalamnya,
Kan ku genggam tanganmu erat
Malam Syahdu, 29 Des. 03
ARie Dandaraga
Berdamai Dengan...
Merambahmu dalam malam
Diantara gelap, bintang, komet, angkasa.
Terbentang luas menggigil sendirian
Asa terheningkan nuansa
Dekapan datang dalam kepekatan
Bawa hati, bawa cinta, rasa hangat
Meminta tak berlebih tundukkan hati
Menantang langit berlari kejar hampa di batas cakrawala
Aku berlari Aku menantang Aku terjatuh!
Sematkan untukku langit tanpa nama
Benamkan di dadaku di hatiku apa adanya yang ada
Aku menjerit Aku berteriak Aku mengerti
Biarkan langit berbicara aku mendengarnya
Biarkan aku menatapnya duduk terjatuh untuknya
Atas malam tanpa kawan,
Gelap tanpa batas.
Bandung, 30 Des. 03
ARie DAndaraga
Menidurkanmu
Melangkah perlahan kusapa kau dengan mentari pagi
Bersama buih yang memutih, dengan riak berkilauan
Tersenyum bersamaku diantara jejak yang terbenam lembut
Genggam tanganku ku genggam erat di dadaku
Matahari sentuh cakrawala, laut terbakar senja
Kelam segera datang kupeluk kau erat
Malam temani kita kelam bernyanyi untuk kita
Lelapkan kau di bahu, kau tertidur...
Bandung, 30 Des. 03
ARie DAndaraga
Refleksi Resolusi
Bergerak dari satu titik
Tuju tempat diatasnya
Sedepa, dua depa
Tak selalu sama
Tak selalu berhasil
Kadang terjatuh mundur ke awal sebelum
Terkadang mampu melompat jauh ke depan
Ada rambu, peringatan dalam jejak dalam pandang di depan.
Cukup kuat untuk diingat lalu jadi tingkah laku
Banyak wajah, kadang terlalu
Tapi satu yang terus kutuju
Bertahan dalam langkah
Hati dalam genggaman.
Aku bergerak menuju takdir...
Menjelang tengah malam, 31 Des. 2003
ARie DAndaraga
Untukmu Nantinya
Akan ada untukmu nantinya
Percikan pelangi di tiap pagimu
Rinai indahnya hujan saat aku memelukmu
Kerlip bintang temanimu melipat malam
Jingga penuh warna keemasan
Kupastikan ada untukmu nantinya
Belaian yang tak ada habisnya
Senyuman manis saat aku menatapmu
Takkan ada lagi tubuh yang menggigil kedinginan
Takkan pernah tetes air mata basahi wajahmu
Karena aku ada nantinya
Menemuimu di setiap penguhujung hari
Bersabarlah manis
Kupastikan adanya diriku
Saat aku menjemputmu nantinya....
11 : 02 pm
Bandung, 3 Januari 04
ARie DAndaraga
Pemberkatan Ini
Kulangkahkan kaki,
Kuberanikan diri tatap mentari.
Tampak olehku kini semua berkas impian
Satu persatu berbayang, harapan kan jadi kenyataan
Asa, cinta yang jadi harapan.
Rasanya tak ada lagi kupinta,
Dihadapnya telah kudapati semua.
Cinta, rasa yang meradang di dada.
Terberkatilah kita berdua,
Mulai saat ini.
Diantara degupan itu...
Bandung, 10 Januari 04
ARie DAndaraga
Bertahan Hidup, Selanjutnya...
Aku harus bertahan
Mulai detik ini, saat ini.
Lakukan!!
Atas nafasku sendiri
Dengan tanganku sendiri
Aku akan bertahan
Aku bertahan
Lihatlah!
Aku bertahan hidup
Aku mampu! Harus!!
Bandung, 15 Jan. 04
ARie DAndaraga
(.....puisi yang ditulis saat rinai turun.....)
Namaku tak lagi tercantum
Dan biarkan waktu biarkannya mengapung
Diantara sela ingatan,
hamparan - hamparan yang buatnya terus menggantung
Bukan lagi saatnya untuk...?
Entahlah,
aku memang tak pernah bisa mengamini
Yang ada kini hanya hentakan!
Keras!
Menghentakkan!!
Apa yang ada Apa yang jadi sisa Apa yang jadi kenangan
Haruskah lagi kenangan menjawabnya?
Waktu tak pernah bisa jadi lawan bicara
Tidak juga pelukan senyuman ciuman
Dan lelah jadi hal yang sangat biasa
Untuk perempuan yang terbiasa bisa
Bandung, 18 Maret 04
ARie DAndaraga
(......puisi yang terselip dan sempat terlupakan.....)
Menjadi ada untuk kemudian tak ada
Kutahu semua hidup adalah antara
Saat sebenarnya kita bermimpi, hanya bermimpi
Tertidur dalam bilangan tahun usia
Bahkan lebih dari itu kita tak mampu
Saat nantinya kita terbangun, semua ternyata mimpi
Satu persatu jejak kita tinggalkan
Bermakna atau tidak, langkah kita pastikan
Tak perlu semua ingkar saat terakhir ingkar tak berarti
Semua hanyalah mimpi, dan akhir nanti semua tersadar
Bandung, 18 Maret 04
ARie DAndaraga
(.....puisi yang ditulis terburu buru......)
Terdiam,
merenungkanmu...
Rindu,
hadir dalam sela berhentinya hari.
Kembali ada cinta,
menyeruak tersenyum menatapku.
Kamu,
dan rasanya cukuplah itu.
Bandung, 25 Maret 04
ARie DAndaraga
(......puisi yg gak jelas maksudnya apa.....)
"Benarkah kini mentari bersinar untukku?"
Malu - malu dia bertanya,
menunduk rikuh....
Terbahak aku dibuatnya, sesaat ingin menggoda
Hingga wajah manisnya semakin memerah...
Kujawab,
"Mentari bersinar karena kau tersenyum padanya..."
Dan dia tersenyum manis....
Bandung, 27 Maret 04
ARie DAndaraga
................
Muak!!
Dengan semua...
Dengan dentingan ketukan...
Dengan rintih yang diperdengarkan....
Aku benar - benar MUAK!!
Mual...
Bandung, 12 April 04
ARie DAndaraga
Saat Saat Tak Tenang
Maafkan Aku
Tapi kekosongan itu kembali datang
hadir iringi waktu waktu sendiriku
menggilas pelan melibas lirih
halus dan menghancurkan.
Aku tidak ketakutan pun Aku kini sendiri
Aku hanya merasa tidak tenang,
karena semua ini tidaklah benar
Aku telah hadapi waktu waktu sendiriku sendiri
karena kau pergi dan aku harus pahami itu.
Tapi ini sungguhlah tidak benar
Karena aku telah melaluinya, melewatinya, menghadapinya.
Dan tidaklah benar untuk mendapati ini yang aku dapatkan!
Maafkan aku, emosiku memuncak
Aku hanya tak tahu.
Apa yang seharusnya kuperbuat,
Saat tak ada lagi pelukan pelukan menenangkan itu!
Bandung, 31 Mei 2004
ARie DAndaraga
Penuh Sempurna Suaramu
Kenapa kini, semua suara adalah milikmu?
Dan bukannya tanpa kata kata
Sepertinya sempurna malam mencelaku penuh makna
Sempurnalah kini
Sempunalah akhir
Tanpa kata tanpa celah namun penuh!
Bandung, 31 Mei 2004
ARie DAndaraga
Hujan Yang Menangis
Ini hujan yang menangis
Seperti saat pertama kulihat kau menangis
Ini hujan yang kesekian kali
dan kini aku melihatnya menangis
Saat teringat bukan hanya kau tapi juga rinai dan semua perjalanan
(Apa kabar rinai dan semua cerita didalamnya?
Dimana tawa dan semua senyum di pagi hari?)
Aku tak ingin melihatmu menangis
Tapi mengapa kini aku melihatnya menangis
Hujan ini kembali menangis
Aku tak ingin melihatnya menangis
Seperti aku tak ingin melihatmu menangis
Hujan ini menangis
Haruskah aku ikut menangis dengannya?
Dan hujan ini terus menangis....
Bandung, 31 Mei 2004
ARie DAndaraga
Untuk Hati Dalam Hati
Untuk yang selalu ada di hati
Waktu memang berbicara kau bukan milikku lagi
Mentari banyak bercerita kita telah terpisah dalam bayang abadi
Tapi tak mengapa kita tahu itu tak mengapa
Sebab hati bukanlah sesuatu untuk menyatu
Bukan pula untuk meminta satu kemudian menjadi lagu
Bila memang saatnya tiba untuk haru
Dekapkan tangan dalam dalam menangguk pilu
Hembuskan nafas pahami arti semua bimbang dan ragu
Kutahu kita tlah jadi cerita baru
Untuk hati yang selalu ada di hati
Hidup adalah benang terajut dalam kisah yang berhembus....
Bandung, 9 Juni 04
ARie DAndaraga
Hingga Tipis Udara
Jejam Jejam Jejamlah dalam dalam
Hingga tipis udara yang kau punya
Batas antara mata dan matahari
Batas antara bias dan yang terbiaskan
Maknai arti,
hidupkan cerita dalam dalam
Kuat Hantam Keras hembuskanlah!
Dengan diam tak akan sempurna
Langkah pergi akhirnya pun tertatih
Jadi hembuskan saja perlahan
Batas tipis akan menyambut
Hingga batas udara yang bisa kau hirup
Kau akan jadi hamparan udara
Menyatu dalam harapan impian
Jadi biarkan saja! Lepaskan saja!
Batas tipis ini akan menyambutmu
Hingga kau tak bisa beranjak
Hingga kau tak bisa lagi mengelak
Hingga tipis udara,
kan jadikanmu milikku....
Bandung, 15 Jun. 04
ARie DAndaraga
|
|