Tarian Bunga
Bungaku menari
Tak henti dalam terik panas menyambut
Tak jera terkungkung badai melambai tak mengarah
Bungaku tak henti menari
Bungaku tak jera menyanyi
Bungaku menari
Senyuman selalu terlukis di tiap kelopak
Manisnya sari terhirup di embunnya pagi
Menari tak henti mencari hati
Menari tak henti mencari jiwa
Bungaku menari dalam lukisan hidupnya
Bungaku menari
Menangis dalam tawa, air mata atas bahagia
Tersenyum kuatkan hati hadapi setapak membingungkan
Bungaku menari
Tak jemu tak pernah merasa lelah
Tak gusar tak sedikitpun mengeluh hampa
Bungaku kan terus menari
Bungaku menari
Tarian kehidupan diantara nafas ¡V nafas memburu
Berpacu dalam waktu
Berdamai dengan pusaran
Bungaku menari tak pernah henti
Tarikan suara hati
Nyanyikan gelak sanubari
Bungaku akan selalu terus menari
Bungaku menari
Sementara aku kan terus menanti
Bungaku menari
Dan aku akan terus mencintai
Bungaku menari
Dan aku... kan ikut bernyanyi
Menarilah tak henti º
Bandung, 26 Juni 2003
ARie DAndaraga
Bertahan Hidup
Aku kan hidup dengan kenangan
Seiring mentari membelai jalan hidupku
Tanpamu... tanpa siapapun
Aku kan hidup bersama senyummu
dengan semua peluk yang menjadikannya sempurna
Aku kan menghadapinya
Aku kan hidup atas cintaku
Saat semua tak sesuai inginku
Saat perih mencekik nafasku
Aku kan terus hidup...
Dan terus...
Bandung, 7 Juli 2003
ARie DAndaraga
Puisi, Jiwaku Kehidupanku
Aku akan berlari
menoleh tak kembali menoleh tak kembali
Aku akan berlari
berjalan tak menangis berjalan tak menangis
Aku akan bertahan
melompat tak bersedih melompat tak bersedih
Aku akan bernyanyi
menari tak berjanji menari tak berjanji
Aku kan hadapi semuanya sendiri
atas namaku sendiri
atas kehidupanku sendiri
Atas darah dagingku sendiri
Aku kan terus berpuisi
menulis puisi
merangkai kata jadikan puisi
menyusun sajak nyatakan puisi
samakan rima berbait puisi
aku kan terus mencipta puisi
Aku akan bertahan hidup
dngan diriku sendiri
dengan puisi ¡V puisi
Aku kan terus bertahan hidup...
Jiwaku dalam puisi......
Puisi....Jiwaku....Kehidupanku
Bandung, 8 Juli 2003
ARie DAndaraga
Mentari Tak Ingin Dinanti
Lama terdiam
Langkah menahan tertahan
Tatap mentari tak lagi berseri
Dia tak ingin dinanti
Menahan beban
Lama menanti
Mentari tak ingin dinanti
Aku menanti mentari
Yang terikat dengan pagi
Akulah senja abadi
Yang tersuruk atas mentari
Aku setia menanti
Pun mentari tak ingin dinanti
Sempurnalah karma
Saat aku terus menanti
Dan mentari tak ingin dinanti
Jakarta, 10 Jul. 03
ARie DAndaraga
Bila memang ini jalannya
Dan dia bahagia dengan ini semua
Ikhlasku tak bertepi
Saat bahagia untuknya di pelupuk mata
Tegakah aku tuk hempaskannya?
Saat dia begitu bahagia dengan ini semua....
Ikhlasku tak bertepi....
Jakarta, 10 Jul. 03
ARie DAndaraga
Langit Merah Jingga
Langit merah jingga
Berbias di matamu
Lama kucari
Hadirmu tak ingin tertepis
Lama menanti
Waktu selalu berlari
Saat langit merah jingga
Kau pergi di pelupuk....
Jakarta, 15 Juli 2003
ARie DAndaraga
RADIOHEAD
Terhanyut dalam lagu
Menjadi diri sendiri atau dijadikan diri sendiri??
Tlah terbiasa akan luka
Saatnya berteriak lantang
(walau tetap menangis lirih)
Memaksa diri sendiri atau dipaksa diri sendiri?!
Tersadar dalam lagu
Terimakasih Tom York!!
Bandung, 20 Jul. 03
ARie DAndaraga
Airku
Untukku air adalah laut
Yang tenang dalam ombaknya, bersama angin, gemuruh deburnya
Lautan air...demikianlah maknanya untukku.
Aku suka sekali dengan air
Melihatnya bergelombang, terpercik di pantai
Angin menyentuh bahuku
Keheningan rasanya jadi sahabat setia
Seorang guru nasihatkan untukku
¡§Saat kamu berada di ¡§puncak¡¨
Istirahatkan sejenak bebanmu
Pandangi lautan luas
Hamparannya tak terkira..
Bayangkan masalahmu lalu biarkan dia melebur
Bersama buih ¡V buih di pantai
Tenggelam dalam ombak bergerak
Dan kau pun sadar
Masalahmu adalah buih di lautan
Pun untukmu gunung tinggi membebani
Masalahmu adalah butir di pantainya¡¨
Untukku air adalah laut
Yang benamkan peluknya dalam hati
Tenangkan gelisahku
Lelapkan riuhku
Laut...gelombangnya tenangkanku
1st day @ writing club!!
Bandung, 28 Juli 2003
ARie DAndaraga
¡§Datanglah kau dengan :
Senyuman menenangkan Pelukan menghangatkan
Genggaman menenangkan
Pandangan melelapkan.......¡¨
Bandung, 29 Juli 2003
ARie DAndaraga
Peta Hati
Hujamkan palungmu di lubukku
Aku ingin bersembunyi di dasarnya
Bandung, August 1st 2003
ARie DAndaraga
Atas Nama Makhluk ¡V Makhluk Possessive!
Ini aku
Jatuh untukmu
Lalu kamu
Luruh untukku
Lihat bintang
Kupetik untukmu
Asalkan bimbang
Kaulepas untukku
Andai cinta
Pasti untukmu
Mestinya cinta
Berbalas untukku
Ini kata
Habis untukmu
Itu kata
Haruslah untukku!
Bandung, 2 Agust-03
ARie DAndaraga
Ragu
Lalu dimana angin kan bernyanyi?
Saat kau adalah milikku penuh
Dan tubuhku tersalib atas namamu
Mampukah aku bercerita saat kau pergi?
Adakah malam kan selalu kelam?
Aku ingin berlari!
Bandung, 4 Agust-03
ARie DAndaraga
Ada Selalu
Ada simpul selalu di senyummu
Pijar hangatnya telusup hati
Ada kasih selalu dimatamu
Binar lembutnya bungahkan hati
Ada cinta selalu disentuhmu
Tenang jiwaku sandarkan hati
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Berderbarlah!
Dengarkan debarku, degupnya buatku mabuk
Debarku berdegup, berdesir
Degupku bertalu, lantas jadi satu!
Euforia tak terkendali
Merasuk dalam puruk
Meradang lantas sesak!
Duh!
Ada apa denganku?
Debarku tak terasa nyata
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Kala Langit Penuh Diam
Langit ¡V langit dalam diam
Terdiam tanpa kata ¡V kata
Kata ¡V kata penuh sunyi
Sunyi yang kiranya berdiam diri
Langit ¡V langit penuh diam
Diam yang terasa kawan lama
Jabat erat, peluk dekap, hidup tanpa kata ¡V kata
Langit ¡V langit yang membentak
Terasa sunyi tanpa kata ¡V kata
Dan bumi yang terus menanti
Berakhir duka dalam harap sia ¡V sia
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
¡§Bila Kau Pergi, Semua Kan Membaik.¡¨
(Permintaan terakhirnya, dalam e-mail 20 Agust. 03)
¡§Pergilah untukku saat ini
Pejamkan matamu lantas biarkan semua mengalir
Tak usah dulu kau palingkan wajah
Semua akan baik seperti sedia
Aku akan membaik
Pergilah untukku saat ini
Tahan nafasmu lalu terbanglah bersama kenangan
Susun satu persatu hidupmu tanpaku
Tak usah gundah
Tak perlu gelisah
Hentikan sedu sedan itu
Semua kan berputar, semua kan kembali untuk kita
Dunia kan membaik
Pergilah untukku saat ini
Lepas genggaman dan ambil kembali semua pelukan
Tak ada yang tersisa, maka ambilah semua saat kau pergi
Tak ada suka
Tak kan pernah ada duka
Karenanya, tak usah kau berpaling lagi
Semua kan seperti sedia
Semua kan kembali pada mula
Semua kan hilang
Dan semua telah membaik
Pergilah untukku saat ini, kumohon...
Dan kita, aku dan kamu, kan membaik seperti awal mula.¡¨
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Puncak Birahi
Kuinginkan kau saat ini!
Peluk tubuhmu, kecup bibirmu
Kuinginkan kau saat ini!
Remas rambutmu, belai leher jenjangmu
Kuinginkan kau saat ini, detik ini!
Hisap lidahmu, hisap dadamu
Remas payudaramu, mainkan lidahku diatasnya
Kuinginkan kau saat ini, telanjang dihadapku!
Pandangi lekuk tubuhmu
Telusuri halus kulitmu
Kuinginkan kau saat ini, sekarang juga!
Hasrat tlah menggebu
Birahi puncak gigit peluh
Kuinginkan kau benar ¡V benar saat ini!
Tak sanggup ku menahan lama
Tak bisa ku kubur dalam
Gosh!!
Aku benar ¡V benar inginkan kau saat ini!
Saat hasrat untukmu tak tertahan!
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Atas Nama Ketakutan
Sebutkan untukku kata itu, sebelum semua ini jadi terlalu
Hentakan itu cukup keras, telingaku berdenging karenanya
Pusaran membekapku makin kasar makin kuat, seisi kepalaku bertalu.
Teriakanku mampukah kau dengar?
Itu suara terakhirku.
Dinding putih makin berhimpit, aku diantara mereka semua.
Langkah ¡V langkah tertahan ribuan selaput, tak terlihat pun tetap kurasa gelambirnya..
Sebutkan untukku kata itu, sebelum semua ini jadi terlalu
Saat semua melayang, tamparan itu mendarat amat keras.
Makian tak terdengar lalu aku tersuruk ke muka
Tusukan tanpa rasio hujamkan peluh dengan namaku tertulis.
Terbanglah tinggi lalu hempaskan aku!
Sebelum semua ini benar ¡V benar terlalu, aku hanya tinggal nama lalu.
Sebutkan untukku kata itu, sebelum semua ini jadi terlalu!
Sebutkan untukku kata itu, saatnya selamatkan aku.
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Aku di Langkah Mundur
Aku menyerah
Aku merasa lelah
Persetan dengan semua pikiran
Persetan dengan semua idealisme
Aku telah kalah
Saatnya turunkan semangat merah
Dan kibarkan bendera putih
Aku menyerah
Aku kini merasa amat lelah
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Malam Dingin Harum Sunyi Tanpa Kekasih
Helaan nafas
Lirih lagu
Decak cicak
Temaram lampu
Geraman CPU, halus
Layar bercahaya
Raut wajahmu
Senyum mungil
Gemuruh tawa
Hangat peluk
Tak kunyana betapa aku rindukanmu
Mata terpejam
Kecup lembut
Bisikan manja
Sepatah ¡§Aku Cinta Kamu!¡¨
Kala mata tak ingin pejam, rindukanmu
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Ketakutanku
Aku takut kau akan pergi, tinggalkanku sendiri
Aku takut kau memilihnya dan bukan aku
Aku takut kau bosan denganku lalu melangkah pergi
Aku takut kau mulai muak dengan semesta egoku
Aku takut kau bangun mimpi yang lain lantas aku tersingkir
Aku takut kau tak suka lagi mawar putih yang setia kuberi
Aku takut kau jenuh dengan romantisme dalam sikapku
Aku takut kau tak berikan lagi ¡§rapuh¡¨ untukku
Aku takut kau ambil hatimu dari dalamku
Aku takut kau menyesal jatuh cinta padaku
Aku takut kau memandangku sebelah mata
Aku takut tampak tak berdaya dihadapmu
Aku takut kau benci padaku, pada akhirnya
Aku takut kau menelan semua omongan mereka
Aku takut kau berbohong atas semua ucap janjimu
Aku takut kau tak punya cinta lagi di hatimu
Aku takut kau sebenarnya tak pernah jatuh cinta untukku
Aku takut kau hanya bergurau dengan semua ini
Aku takut kau akan tertawa dan menatapku bagai pecundang
Aku takut kau menipuku mentah ¡V mentah
Aku takut kau tak mau memelukku lagi
Aku takut kau tak mau usap punggungku lagi
Aku takut kau tak mau kecup bibirku lagi
Aku takut kau tak mau hapus air mataku lagi
Aku takut kau tak mencintaiku lagi
Aku takut kau akan pergi, tinggalkanku sendiri
Aku takut kehilangan diriku sendiri
Aku takut kehilangan kasih tulusmu
Aku takut kehilangan dirimu
Aku takut terbangun sendiri di pagi hari
Aku takut kau akhirnya pergi, tinggalkan aku kembali sendiri
Aku takut...
Sadarkah kau aku ketakutan?
Bandung, 29 Agust. 03
ARie DAndaraga
Aku Tak Bisa Tidur!
Jangan bangunkan aku, aku tak bersahabat dengan mentari
Jangan paksa aku menyambutnya, berkasnya buatku muak
Semua tentangnya selalu berarti hidup baru,
tapi tidak untukku!
Semua atasnya adalah harapan lain yang katanya terbit,
aku cukup dengan omong kosong itu!
Tak sekali aku coba bersahabat
Tapi apa yang aku dapat, hati lepuh rasa yang jadi abu
Karena mentari kan menjelma jadi matahari
Yang panas, tegas, membakar tanpa ampun. Tanpa melihat siapa aku! Tanpa hormati siapa aku!!
Yang angkuh, arogan, sombong dan cukuplah itu semua! Aku muak teruskannya!
Lebih baik kau bangunkan aku saat malam melipatnya.
Malam yang hitam, kelam, dingin, namun jujur dalam lakunya.
Malam yang selalu dipandang sinis, seakan dia pembunuh kehidupan. Bukankah kita sendiri yang membunuh kehidupan?
Jangan salahkan malam atas kejujuran yang dia miliki.
Dia hanya tahu apa yang dia lihat. Dan dia melihat kemuraman, dan itu selalu!
Lebih baik aku terjaga saat malam memeluk hari
Dan aku berdiam diri pandang dunia yang lelap tak berdaya
Dan aku... Aku hanya akan diam dan tersenyum
Cukuplah sudah kusambut mentari,
kini saatnya kupeluk malam dengan asa terpejam.
Semalam, aku tak bisa pejamkan mata
Bandung, 30 Agust. 03
ARie DAndaraga
Ribuan Dirimu!
Ada kamu di mataku, tersenyum
Ada kamu di senyumku, kecup aku
Ada kamu di bahuku, hangatnya pipi
Ada kamu di penaku, itu sebabnya kutuliskan ini
Ada kamu di lagu, bisikkan rindu
Ada kamu di debarku, kurasa kau memelukku
Ada kamu di sendiriku, tarian kesepianku musnah!
Ada kamu di kantukku, rasanya kaulah mimpi terindah
Ada kamu di lelahku, semua lepas semua bebas
Ada kamu di rinduku, nikmatnya tak terhingga
Ada kamu di air mata, ini tangisan bahagia
Ada kamu di pita suara, namamu kuteriakkan
Ada kamu...
Mencintai tak terasa sepi, hentikan waktu!
Ada kamu...
Degup tak tertahan, senyum tak terhitung
Ada kamu...
Gelisah, gundah, lelah, keluh kesah.
Ada kamu...
Cintaku, selalu, kamu! Aku Tertawa!!!
Saat tugas POSTMO tak kunjung usai,
Dan aku rindukanmu kasih!!!
Bandung, 5 September 03
ARie DAndaraga
Berlabuh Berani!
Dengan wajah yang tersebutkan
Pahami diriku, ini bukan saatnya tersia sia
Lewati semua bara, laut yang terlepas
Bening bening teriring, bintang?
Dekapkan wajahmu, dekatkan hatimu
Buncahan rasa tak terkira adakah teraba?
Lemah, Lelah, jiwa telah lelah asa lama melemah
Keringkan air mata untukku, keringkan luka bagiku
Wahai Duka tersembunyi, tak usahlah kau menyapa
Wahai Cinta terbebani tak usahlah kau berlari
Diriku tak kan pernah sembunyi...
Bandung, 5 September 2003
ARie DAndaraga
Untuk Yang Selalu Ada Di Hati
Untuk yang selalu ada di hati...
Semoga rentang waktu bukan jadi beban utama
Bukan juga jadi masalah utama, sebab utama.
Tidak juga untuk berpindah jadi air mata
Haruskah ada air mata di setiap rentang waktuku?
Waktu kita? Seluruh waktu kita!
Bisakah semua jadi arus?
Mengalir ikuti semua yang harus dialiri,
yang harus diikuti.
Bukannya membentak, membentur batas,
Merombak dekapan rasa.
Ah Tuhan! Tahukah kau, diri ini lama lelah.
Diri ini lama mencari, lalu menemukan.
Biarkan hangatnya meresap dulu,
jangan tunjuk dia pergi lantas berlalu.
Haruskah perjanjian damai denganmu, kuakhiri?
Dan kumulai dengan peperangan yang lebih lama,
Lebih mencekam, lebih menyakitkan??!!
Sudahlah...
Aku ingin lelapkan semua,
Aku ingin terlelap dengan amat lelap.
Aku ingin lupakan semua,
Aku ingin mengingat tanpa perih.
Tahukah kau?
Aku hanya ingin menari,
menyanyi seperti mereka semua.
Aku ingin jadi manusia biasa...
Aku hanya ingin mencinta...
Mengertilah kau...
Kumohon...
Bandung, September 2003
DAndaraga
SAAT MELATI MEKAR
Kenapa harus berpijak pada hari?
Bukankah semua kehidupan terhitung padanya?
Maka tak usahlah menghitung
Dia pasti akan terhirup,
mau tak mau.
Kenapa harus dirasa bunga bunga lambang itu?
Pastilah nanti kau kan mencumbunya
Rasakan indah harumnya,
siang dan malam.
Reguk pasti kelopak demi kelopak
Gelambir yang terlepas
Satu demi luruhnya
Satu demi puncaknya
Kenapa harus tangisi takutmu atasnya?
Lelahmu kan sampai melesak
Risaukan mahkotamu, itu tak perlu
Peluk sajalah semua, sampai habis tak tersisa
Sampai tandas tak pernah jadi bekas
Tetap semuanya akan tercium
Kenapa harus kau bertanya?
Satu dan lalu seterusnya
Toh, nanti kau kan icipi juga
Hari yang jadi melati hidupmu
Bandung, September 2003
ARie DAndaraga
Langit Merah!
Jingga mulai untukmu di peraduan
Langit memerah!!!
Kukunyah renyah degup nadi teratur
Ada kamu disampingku...
Tersenyum, masih lelap
Selamat pagi Kasih...
Kamar Nee, 22 Oktober 03
ARie DAndaraga
Raksasa Dan Aku
Berserak rempahan yang tak habis dimakannya
Kuperhatikan matanya,
nyalang menatap rakus aku dan makanan di hadapnya
Kuberikan lagi sebongkah untuknya
Diambilnya paksa Dikunyahnya lahap Ditelannya musnah
Kuberikan semua, kurasa tak ada tersisa
Tetap dia meminta lebih, tak kuasa kutatap marah pandangnya
Apa yang ada? Tanyanya
Tak tersisa... Tundukku
Berikan semua! Garangnya
Hanya aku dihadapmu tertinggal... Lirihku
Kuberikan semua diriku...
Aku kini menutup mata...
Habislah sudah diriku...
Istirahat di tgh PIP
CCF, 25 Okt 2003
ARie DAndaraga
Me, My Mum and God
Shell understand,
I bet she will!
When I say, Mum, your daughter is a lesbian!
Shell just sigh,
I bet She will!
When I pray, God, Im a lesbian!
Bandung, 26 Oktober 2003
ARie DAndaraga
Yours Forever
Come on closer,
Come closer to mine
To everything in mine
Im yours
Cant pretend that Im not
Everything in me was yours
Everything in you were mine
Bandung, 26 Oktober 2003
ARie DAndaraga
Bulan Tuhan
Aku melihat harap harapan berserak
pada manusia yang bergerak serima
dalam rumah atas nama Tuhan.
Aku melihat manusia mengharap
pada pinta pintaan yang bukan bahasa sendiri
Bersuara dengan suara mereka sendiri
Namun tak tahu apa yang habis disuarakan
Aku mendengar cerita penuh janji
Harapan jadi impian, tapi apa sebenar impian?
Aku melihat kepala bergerak sama
Aku mendengar mulut meludah kata
Aku melihat muak kepalsuan
Aku mendengar muntah kebohongan
Tuhan dimana kau simpan?
Tuhan adakah tempat....?
Tak ada Tuhan?
Kuatasnamakan Tuhan!
Aku mendengar Tuhan?
Aku melihat Tuhan?
Tuhan merasakan aku...!
Selesai kulakukan ritual yang tak ada makna untukku, kini.
Rumah, 26 Oktober 2003
ARie DAndaraga
Lima Menit, Lepas Dari Cinta
Apa lagi yang harus dirasa, dalam pikiran tercetak nelangsa
Adakah alasan untuk pergi, alasan bila kembali
Ataukah aku harus berjalan kemudian berlari
Waktu memang beranjak pergi, perasaan apa lagi yang harus ada?
Saat lelah mulai nampak, rebah dalam rinai, mengalir atas tanah
Tertawa dalam cerita, berenang renang tak jauh dari angkara
Semua usai.... Bolehkah aku beristirahat sejenak?
Dan diam menjawab semua kemudian luruhkan bara, janji?!
Cinta datang untuk pergi, aku cukup menepi.....
Untuk kata kata awal tak t`baca
Dicatat ulang: 26 Okt 03
ARie DAndaraga
Dwipta Kedua
Untuk hari pertama dimulai indah
Tak nyana aku terus meluruh
Dalam denyarmu,
berselimut apa yang ada
tertawa di dalamnya.
Berjalan denganku,
genggam bias mata berwarna
penuh sesak pelukan kalbu
jalar hangat genggaman jari.
Aku bersyukur lega...
Menarilah kini untukku
Bernyanyi, lagu matahari
Mentari sahabat, cinta sejati
Tertawa, tawakan cinta berhati
Melangkah...Berjalan
Puisi ini tertulis untukmu...
Terimakasih untuk Dwipta kedua
Aku kini,
penuh ikhlas tulus
Mencintaimu.
Akang Sayang Nee!!
Hati penuh cinta, 27 Okt 2003
ARie DAndaraga
Rindu Yang Buatku Tersenyum
Rinduku menggelegak
Betapa aku tersenyum dibuatnya
Sampai mampu kusimpan matahari
genggam erat, labuhkannya di dada
Hingga dapat kupeluk pelangi
Tebarkan bias biarkannya tertawa
Merekah sunyi...
Tersenyum jadi satu
Rinduku menggelegak
Betapa aku tersenyum dibuatnya
Dan aku jadi senja keemasan
melayang kitari, buat dirinya tersenyum
Lalu aku berdebur jadi ombak pantai
berdesir... sentuh jemari lembut kakinya terbenam pasir
Cinta jadi berarti...
Tersenyum hati berseri...
Rinduku menggelegak
Betapa aku tersenyum dibuatnya
Betapa aku rindu atasmu
Betapa denyar ini untukmu
Betapa senyummu...
Betapa pelukmu...
Betapa aku rindu dengannya
Betapa aku rindu atasmu
Rindu ini menggelegak...
Betapa aku tersenyum dibuatnya
Dwipta kedua, aku tersenyum...
Kamar, 27 Oktober 2003
ARie DAndaraga
Jawaban...
Kenapa kau selalu lakukan ini padaku?
Berulangkali!
Kau buka lenganmu lebar, pahatkan senyum di wajah
Lalu kau lemparkan aku hempaskan aku tampar aku!!
Hancur berulang kali...
Patah setiap kali...
Kau pergi untuk salahku
Kau pergi atas hidupmu
Segeralah turunkan egomu yang setinggi langit itu!!
Aku tak bersalah atas apapun yang kau terima...
Aku mengerti
Aku coba pahami
Tapi jangan kau terus paksa aku telan semua sakitmu ini...!!!
Yang kau punya aku
Yang kau punya hatiku selalu
Yang kau punya cintaku
Aku cukup berikan semua!!
Jangan paksa aku membencimu
Jangan paksa aku tinggalkanmu
Kita tak terpisahkan,
kau bahkan tlah pinta janjiku tuk tetap disisi
Kita saling mencinta, sakit yang ada t`lah kita rasakan semua
Sudahlah...
Lupakan semua omong kosong yg baru kau tulis!
Aku tak akan pergi.
Kau pun tak mau aku pergi, sebenarnya.
Dan tetap kan kuucap kalimat yang belum kau jawab jujur...
Maukah kau jadi Istriku?
Menanti jawab, terus menanti jawab!
Bandung, 3 November 2003
ARie DAndaraga
|
|