PROLOG
Perjalanan untuk sebuah kata hati
Lalui liku jalan hidupnya nurani
Untuk sepotong hari
Senyuman selalu berarti
Dan mungkinkah kau selami
Likunya hari hari sendiri
bagi Jiwa resah tak jua ditemani
I
Engkauku....Akumu
Saat bunyi itu menjauh
hati rasa hampa
Walau secercah harapan
tak satupun mengunjungi
Bunyi itu buat mata nanar
lalui warnanya di hati
Ubah semua kehangatan
jadi beku¡Kdingin
Sontak mereka mendekat!!
Dengan teleskop hati
serta obat penawar
tanpa tahu pasti,
apa yang terjadi
Dengan sebongkah arogansi
Mereka tilik dasar diri
¨Aku tak mau dengar
Tak mau berkata
Tak mau dan takkan pernah mau¡¨
Apalah arti sebuah kemurnian
bila hanya sepi yang dirasa
Aku tak mau ikuti alur ¡V Nya
karena aku¡K. Sadari engkauku
Sontak mereka tiba kembali
Dengan tetesan penuh perhatian
Walau rasa tusuk diri
Bagiku mereka semua mati
Aku tak ingin tahu
Tak ingin bicara
Takkan pernah ingin apalagi keinginan¡¨
Semua mati bagiku
Semua rasa pergi untukku
Bagi sebuah hati¡K¡KIni Neraka!!
Thursday, January 11th 2001
Dandaraga
Semua bayangmu.
berputar dalam benakku
terus menerus dalam ragu..
Semua bentuk dirimu
akankah dapat kuhirup
harum nafasmu
II
Milik ¡V ku
Aku mau...
Setiap saat...
aku rindukannya...
sepenuhnya Dia .. begitu berharga ..
Sungguh amat berjasa
Tanpa harap .. dihalau rintik mutiara .
Andaikan aku ..
dapat menyajimu
ku takkan tahu
lanjutan surat takdirku.
Senyum
suci bagai air mata nurani
kau...?!
bawa segenap hati
dan buat hempasan raga ini
Andaikan bisa
Meniup nurani dan hati
Kau kan kusunting
Bak permata hati.
Sebagai ganti
Hati dan nurani
Yang telah pergi
Tinggalkam semua hari
Dalam genggaman jari
February 2001
Dandaraga
III
Rinduku
Degupku...tak mampu kutepis
impikanmu, seiring
angan tak bertepi
Luruhkan hati...
Adakah sebuah janji?
Yang tak tentu arti !
Kutegakkan !!
perjalananku tlah lama ditempuh
mungkinkan
Semua angan tak tentu
Bagai birunya langit
Rindukan suci.
Murni... cinta abadi
Dalamnya hati
Sepotong janji
Seulas kasih
dalam hitungan hari
Rindukanmu pasti !!!
Monday, April 16th 2001
Dandaraga
IV
Teman Baik....Ku !!
Kini ... tempat itu tak lagi
putih ...
Layaknya melati yang gugur
layu ...
Ada sesuatu mencekam
benci ...
amarah ...
Walau desir tetap musnahkannya
Kaukah itu ?!!
bawa gumpalan dendam
dengan genggaman tangan
sendiri
lalu
menepi ...
Aku hanya mampu
mengerti
Dan coba memafkan ....
(Catatan kecil dalm buku cat. kimia)
Dandaraga
V
Jalanku
Derap langkah
tak kunjung usai
Terlalu
tuk dapat dimengerti
Sekalipun kini
aku tepat disisi
Wajahmu
usai membayangi
Dan mengapa
ku tak merasa sepi
Adakah
luka tlah terobati
Lalu
Sepi pun tak mampu berarti
Neraka
mampukah ini kujalani
Surga
mestikah kugapai
Perjalanan
bagian nurani
Adakah
Tuhan mampu mengerti ?
Tuesday, april 17th 2001
Dandaraga
VI
Bayangmu
Lembayung
tutupi gundah hatiku
Nantikan sosokmu kembali
Oooh ... (raguku ....)
Adakah jiwa tertambat kembali,
layaknya .......
Senyummu bagaikan lembayung
riuhkan gundah gulana
hatiku ...
Mungkinkan aku mengerti kau?!
kutahu ... aku mencintaimu
Penuh
Hangat diri, bukakan kalbu
mengertikah mereka ?
akan semua
Tak dapat dipahami
bagi rasa diri mereka !!!
mengertikah ...!!!
Dirimu tak lagi menghampiri
kuukir itu jadi sebuah
janji
Kau t`lah pergi .....
seperti lembayung ..
Tuesday, April 17th 2001
Dandaraga
Epilog
Akhirnya aku menemukan seseorang, kuharap ini jalannya. Semoga .... Apakah ada keraguan untuk ini semua ?! Rasanya untukku tidak. Dan entah tuk orang lain ... Hingga tiba saatnya, semua jadi bagian hidupku ... Walau mungkin tak semanis mimpi biruku, ku takkan ragu .. Dan itu pasti.
Semua jadi begitu berarti. Setiap detik iringi hari demi hari menjadi berarti. Amat sangat...berarti.
(Dandaraga...)
KASIHKU
Bolehkah berkata arti hati?
Walau ku tak terlalu yakin ini diriku
Bolehkah kupinta diri?
Karena ku tak rasa ini tempatku
Semua adalah kejujuran abadi
Walau mungkin tak pada bingkainya
Warnai jalan hidup hari sendiri
Kuharap kau mengerti ..kasih abadi
SAKITKU
Semoga dunia tak tampak terlalu mengharu biru
Ketika setiap bagian bertambah buruk
Karena sakitku bukan tuk dirasa terlalu jauh
Hanya sekedar lintas peringatan Sang Rabbi, untuk diriku
Harapku semua berakhir dengan suatu kesempurnaan
Dengan bagian yang sama sekali bukan saat menggembirakan,
bahkan mungkin tidak setiap liku yang memudahkan
Kutahu perjalanan adalah sebuah garis penuh lekukan
Sekalipun sakitnya hujamkan lubuk relung jiwa ragaku
Walau benturannya remukkan tiap inci tulangku
Ku tetap harapkan yang terbaik untukku
Dan sama sekali bukan yang terindah untukku,
ataupun yang termudah bagi seorang jiwa sepiku
Sebab kuharap aku pergi dengan sebuah nyeri,
dan tiba dengan seulas senyum manis
Untuk diriku... untuk sakitku... untuk hati kecilku
Cuman sekedar peringatan bagi diri sendiri, bahwa tiap bagian perjalanan hidup menyakitkan. Tak peduli kau sanggup atau tidak, hatimu mampu atau sama sekali tidak. Hidup adalah perjuangan, tanpa henti ¡V henti. Sebab tak ada yang jatuh dari langit dengan cuma ¡V cuma. Harapku semua akan baik ¡V baik saja. Bagiku, untuk dirimu, untuk kita. Semoga semuanya baik ¡V baik saja.
Semoga setiap nafasku bawa arti di sisa hidupku, kuharap langkah kakiku bawa siluet yang terbentuk indah di sekujur mimpimu. Sama sekali......tak kupinta yang lain Tuhan, cukup bahagiaku karna restu dan berkah abadi-Mu.
Beningnya hati tuntun langkah dalam bimbingan-Nya
Akankah bersama ¡§MEREKA¡¨ kala tiba saat terakhir
Tak kan pernah ada jawaban, sebab jawabnya ada dalam diri
Berusaha melaksanakannya dan berdoa mengharapkannya
Dalam tangan Tuhan, hidup kita terus berjalan & mengalir
Berharap dan berusaha semua kan sama seperti keinginan-Nya
(Terima kasih Tuhan atas berkah tuk mencapai kesadaran ini)
Mencari Kasih
Dimana dirimu?
Tak kutemukan kau ditepian langit sekalipun
Birunya hempaskanku....
Bandung, Mei 2001
ARie DAndaraga
PUISI PATAH HATI
Setelah semua ini
Rasanya kutahu
Waktu telah berlalu,
& membawa seluruh asa
Terbang dari dalamku
(Tapi.... ku kan terus langkahkan kaki....)
Semua ini sisakan perih
Lalu duka, dalam genggaman jari
Serpihan hati ......
Kutahu ku harus menyusunnya lagi
Mudah ¡V mudahan kau dapat mengerti
Bukan artinya ku tak pahami
Coba kau sadari ...... kau rebut hati ......
Lalu buatnya jadi tak berarti
Tapi sungguh ..... aku bisa memaafkannya
& coba melupakannya
Harapku ..... semoga ..... mampu
Hingga nanti, saat hatiku sempurna kembali
& luka tlah lama terobati
ku kan melangkah lagi
Gapai semua hamburan ¡V hamburan cinta
Yang tak terhitung banyaknya di udara
Kutahu ... aku bisa bertahan
Doakan aku ... seperti kudoakan kau selalu ...
Hidup kita tak harus seirama
& kutahu ....
Dia selalu bersama kita semua ...
Tuhan tak pernah tinggalkanku....
Selamanya .... (dan yakini itu ....)
Perpisahan selalu menyakitkan, walaupun kau sudah mencoba merangkainya semanis mungkin..... ...... Bukankah begitu ?!! Ah...Tak apalah, buatku ini jadi sebuah pengalaman berharga yang takkan pernah aku lupakan..... Perasaan sakit ini, kecewa, hancur, semuanya !!!!! Akan jadi sebuah pelajaran berharga untuk diriku kelak. Ku tahu sakitnya disakiti, ku paham kecewanya dikecewakan, ku mengerti hancurnya dikhianati.... Ini semua mimpi buruk, yang jadi mimpi terindahku.... Hahahahahahaha ..... Sudahlah ... Aku toh mampu lupakannya....(pada akhirnya)..... hehehehe....... ......Wish you luck in all your way......Good luck...sist.....
(Dandaraga)
AKHIRNYA
Dan ingatkanku akan senyum manis
Di wajah seseorang yang kusayangi
Lembut harum nafas, saat dia.....
Kecup bibir mungilku
Resapkanku kata indah janjinya
Disaat kami bercerita
Impikan masa depan yang penuh ceria
Bersama .... berdua .... hingga hari menjelang
Bawa diriku kembali
Saat dia berikan pelukan penuh
Genggaman menghangatkan
Tawa cerita bersahutan
Dinding retak penuh pukulan
Air mata berlinangan
Ku tahu .........
Ini penggalan jalan hidupku
Ku takkan melemparnya
Atau mungkin hanyutkannya dalam sakitku
Ku takkan membuangnya
Atau hanya merobeknya dengan tangisku
& sungguh !!!
karena saat ¡V saat hampa seperti ini
kala hati telah rapuh
lelah dibuai lembut manis cinta
Semua buat diri melayang tinggi
Bawa senyum manisku merekah
Dan kutahu ku telah lampaui sakit itu !!!
Sendiri
Sendiri, selalu membuat arti lebih dalam setiap detik kehidupanku. Mencoba mengerti dan memahami keinginan dunia untukku atau malah sebaliknya keinginanku untuk dunia.
Sendiri selalu membuat arti mendalam. Ketika setiap bagian pedih mengambang satu persatu, menyadarkanku bahwa ternyata aku memang sendiri. Dan selalu seperti ini. Selalu sendiri.
Sendiri selalu berkata lain. Bahwa aku memang ada disini namun tanpa seorangpun disisi.
DAndaraga
Bandung, 30 September 2001
Tepi Hati
Pernahkah kita berpikir
Tentang seorang cinta yang menanti
Menanti kita menghampiri
Sedikit demi sedikit,
Bersama waktu yang mengalir sepi......menyepi
Adakah kita mengerti
Tuk sedikit memahami sepotong nurani
Memahami.... ini bukan mimpi
Sekalipun dia tak pernah menepi
Sekalipun aku tak pernah pahami
Hadirku dalam kehidupannya
Hadirnya dalam kehidupanku
Cinta
Menepi.....menghampiri
Sendiri.....menyepi
Adakah keharusan lain
Untuk menantimu
Sedang hati tak pernah mampu mengerti ?
Aku menantimu
Sendiri.....dalam sepi
DAndaraga
Bandung, 4 Januari 2002
Untuk Bintang - ku,
Selamat malam, Bintang
Kuharap kau masih bersinar malam ini
Bukan karena aku memintanya
(walau sejujurnya dalam hati aku menantimu, dan selalu)
Namun karena kau mulai menyadari
Arti kehadiranmu bagi semesta alam ini
Bagaimana dengan sinarmu?
Masihkah menyala dengan penuh kemilau?
Aku tak dapat melihatnya dengan jelas
Kau sendiri mengerti,
Jarak yang ada untuk kita teramat jauh
Sehingga sinar yang aku lihat,
Tak lebih dari seberkas sinar ribuan tahun cahaya yang lalu
Dan kita berdua mengerti
Kita tak pernah mau mempercayai sinar ataupun pedar seperti itu
Karena siapakah bisa membuktikan,
Bahwa sinar atau pedar itu adalah kenyataan yang sesungguhnya terjadi
Pun untuk mempercayai bahwa itu tak benar terjadi
Akuilah...Kita berdua tak punya kekuatan untuk itu
Aku tahu kau pasti tertawa
Dengan senyum dan gema yang telah sangat akrab di telingaku
Melihatku terpaku di bumi ini
Sambil terus berusaha mencarimu
Di keriuhan malam yang seringkali berubah menjadi malam yang menyesakkan
Tertawa keras dan penuh celaan
Ah sudahlah!!
Kau membuatku malu dengan semua itu
Ya aku akui,
Dulu aku tak suka dengan idemu yang terpaksa malam ini aku lakukan
Ide memandangmu di kegelapan malam
Saat aku merindukanmu teramat sangat
Mengertilah!
Saat itu aku teramat malu untuk mengakui
Bahwa aku memang menaruh hati untukmu
Namun kini aku sadari,
Ide memandang langit saat aku merindukanmu
Bukanlah ide yang teramat jelek
Itu bisa mengurangi rekening teleponku
Yang mulai mahal sejak kau lahir di kehidupanku
(Ha..ha...ha... Kau pasti tertawa lagi dan berkata ¡§ Siapa yang menyuruhmu untuk jatuh hati dengan seberkas bintang seperti ini?¡¨)
Bintangku apakah kau merindukanku kini?
Aku tahu ini sungguh terdengar melankolik
Tapi aku tak pernah mendengar kabarmu
Semenjak kau pergi mengejar mimpi
Aku tak kuasa menghubungimu
Hanya berharap setiap hari,
Bahwa kau akan menghubungiku kini
Dan hilangkan semua gelisah di dalam hati
Aku tak tahu apakah kau resahkan aku
Aku pun tak tahu apakah kau masih mencintaiku
Atau malah aku sama sekali tak tahu apakah kau memang pernah mencintaiku
Kita berdua tak berani ungkapkan itu
Sebelum kita berdua mampu menjalani penantian ini
Kita takkan mengikat apapun dan siapapun
Doakan aku seperti kudoakan kau selalu
Aku menunggumu di hari aku mulai bernafas penuh harap
Hati-hati bintang!!
Aku akan selalu memandangmu dari bumi
Berharap suatu ketika kau melihat ke bawah sini
Lalu melambaikan tanganmu dengan penuh suka cita
Walau kutahu itu amat tak mungkin
Karenanya aku akan coba untuk menantimu
Dan mengharap semua janji yang terucap
Adalah bukan bual semata
Tahukah kamu bintang?
Malam ini aku rindukanmu amat sangat
Sudahlah!!
Jangan mulai lagi tertawa
Kau mebuat seluruh mukaku merona merah
Hentikan!!
Aku malu....Tak mengertikah kau?
Jaga dirimu bintang
Aku menantimu selalu
Puteri-mu
DAndaraga
Bandung, 4 Januari 2002
Sang Kekasih - 1
(The 2nd Release/Revision Edition)
Selangkah kaki
Dia menatap langit.
Berharap sepejar bara,
merekah menelusup hatinya menghapus luka
Terseyum tatap mentari tak pernah coba sembunyi
Kamu hadir untuk dirimu sendiri dan bukan orang lain
Lampaui semua hingga hidup kan jauh lebih berarti
Untukmu
Dan pastinya untukku juga
"Sang Kekasih"
:P
jogja, 21 jan 02
Dandaraga
FREEDOM!!
Cinta adalah kebebasan, sobat!!
dan bukan sebaliknya
Dia bebaskanmu dari kesendirian,
dan bukannya mengurungmu dalam kesepian
Dia adalah hambamu,
dan kau adalah raja dengan segala kuasa
Berharap pada cinta,
artinya kau berharap pada dirimu sendiri
Meyakini sikapmu tuk hadapi semua
Sama sekali bukan sikapnya yang sering buatmu terhempas
Ingat...Cinta untuk Hidup
Dan bukan...Hidup untuk Cinta
(Sebuah kenangan tentang sesosok puteri, di Jakarta)
Yogyakarta, 27 Januari 2002
DAndaraga
KEMATIAN SEORANG PECUNDANG
DAN AKU AKAN BANGKIT
DAN AKU AKAN BELAJAR
DAN AKU AKAN BERJUANG
DAN AKU AKAN BERSUNGGUH SUNGGUH
DAN AKU AKAN BAHAGIA
DAN AKU AKAN BANGGA
DAN AKU AKAN BERSYUKUR
DAN AKU AKAN MENJADI
MANUSIA!!
Bandung, 12 Februari 2002
DAndaraga
Akhir Masalah
Menepi perih,
Sambut hati.
Membeku letih.
Lelapkan aku disini
Lelapkan aku dalam maki
Kau tak perlu mengerti arti semua hati
Melangkah tertahan
Surya merajam
Tuhanku, adakah kau mencumbuku?
Segala arti nafsu dan kenikmatan tlah terbeli
Kini tubuhku sepenggal birahi
Peluhku... mampu kau jamah?
Berkenaan dengan nurani, kuminta kau menyerah
Dan aku cukup menahan semua resah
Saatnya akhiri masa lelah
Tak satupun terperah
Aneh...
Semua cerita mendesak
Satu demi satu
Aku terlelap dalam puncak
Detik yang berdetik
Kaupun merayap pergi
Saatnya akhiri masalah
Aku pergi.....
Bandung, 12 Februari 2002
DAndaraga
2 orang pemabuk
(kenangan tentang busuknya one night standing!)
Dan kau terkontaminasi
Melayang mabuk dalam sebuah malam penghargaan diri
Kau kira itu cukup mengisi?
Dan kau menenggaknya
Hingga bercumbu denganku dan semua kebohongan itu
Kau kira itu cukup menutupi?
Dalam gelap kita bercumbu
Berdua dan menyatu
Dalam gelap aku menipu
Tentang kita lalu kalian
Masihkah kau mabuk?
Sepanjang perjalanan aku menunggu
Tersadar lalu menyandar
Sekalipun aku tak mabuk
Kutahu jiwaku mabuk
Tentangmu dan olehmu
Bandung, 12 Februari 2002
DAndaraga
Sederet PAGI
Pagi
Untukmu ini penuh makna
Hidup dan Mati
Pagi
Saat semuanya beranjak menari
Sejak tertatih dan berlari
Pagi
Tentang arti ribuan tangis
Menunduk pilu dan bahu penyandar
Pagi
Tipuan kosong tentang mentari
Berharap tak pernah ada akhirnya
Pagi
Beranjak tenggelam dan saatnya menatap
Walau peri yang kini terbeli
Pagi
Saatnya makna untukku
Maaf dan sebuah keluguan
Pagi
Terjaga dalam peluk
Hangat dan menenangkan
Pagi
Rentetan cerita pendek
Tentang cinta dan kedamaian
Bandung, 12 Februari 2002
DAndaraga
Pagi, Sore, dan Malam
(Siang yang terlupakan)
Matahari terperak embun pagi
lagu pagi meresap nurani
kau tersenyum untukku
lembayung menutup malu malu
Bintang yang terkerlip merekah
aku tersenyum untukmu
Bandung, 13 Februari 2002
DAndaraga
DIa_DAn_AKu
(sebuah nostalgia subyektif)
Adakah kau memang cintaiku?
Merayap lembut dalam elok parasmu
Kau tersipu malu
Adakah kau memang cinta untukku?
Dekapmu sungguh riuhkan kalbu
Aku lama terbeku
Adakah kau dapat cintaiku?
Serupa kelopak embun di sahara
Kau hadir meranggas
Adakah cinta memang untukku?
Aku tak pernah berkata
Pun aku tak memiliki
Adakah aku pernah mencinta?
Segala peluk coba kusimpan
Aku tak mampu cintaimu
Lelahku dalam tawa
Kau hadir terselubung lara
Aku tak mampu mencintaimu
Lelapkan aku kini
Kecupan akhir baru saja terbeli
Aku tak pantas mencintaimu
Kuyakini,
AkuMU, EngkauKU
Kita semua terbeli hasrat birahi
Dan rindu ini melebur hasrat
Aku tak pantas kau cintai
Yakinkah kau?
EngkauKU, AkuMU
Kau tak mampu cintaiku
Aku lama terpaku
Kau tamparkan itu
Aku resapi semua
Adakah kau untukku?
Adakah cinta untukku?
Aku pahami seluruh
Mampukah aku mencintaimu
Pantaskah aku?
EngkauKU,
AkuMU
Lalu membeku....
Aku mencintaimu
Pun aku ucapkan lugu
Kau tak mampu
Kau mencintaiku
Pun bisikkan dalam lelap
Aku maklumi sebagai lalu
Engkau milikku
Aku milikmu
Rasanya itu kini harus menunggu
Bandung, 13 Februari 2002
DAndaraga
Satu jam dekati 14 Februari
Menapak dengan perlahan namun pasti
Hari ini kan segera berganti
Untuk jadi hari kemarin
Untuk jadi masa lalu
Kemarin dan masa lalu, sekeping mata uang
Menjadi satu
Menepi dirimu sama sekali bukan inginku
Kumau kau terus melaju
Sekalipun artinya lepaskanku di pelupuk
Ku ingin kau terus melaju
Hari esok tlah jadi hari ini
Lalu apalagi yang harus kuberi
Atau coba menjalani
Tuhanpun mengerti, Cinta adalah dirimu
Kaupun menyadarinya
Lelapkanku disini, dibalik bahumu
Damaikanku dalam lembut
Sekalipun tak mampu kukecap
Damai yang kubutuhkan dan bukan segelas nafsu
Tidurkan aku di pelukmu
Hingga hari ini segera mampu berganti
Meninggalkan semua cerita sehari dalam cinta
Bandung, 13 Februari 2002
DAndaraga
14 Februari
Entah mengapa,
Kurasa kau dekat di kalbu
Hangatiku luruh
Bandung, 14 Februari 2002
DAndaraga
LEPAS LANDAS
Karena kau kucinta
Sepi tergapai olehku sebagai rela
hadapi langit dalam cerita
Lepas landas tanpamu
Sendiriku cukup teranggas
rindu dan mentari setia menepi
Bahagiaku teruntai dengan waktu
Dan kau cukup disana memandangi
Aku terbang lepas tanpamu
Karena kau kucinta
relakannya mengangkasa
pun demi luhur inginnya
Kau lepas landas tanpaku
Riuhmu bahagiakanmu sungguh
Cinta dan Kekasih rapat menemani
Takutmu melebur dalam tangis
(pun mata terpejam, aku masih mampu melukisnya)
Kau berbayang dan aku mengitari
Aku mendarat karena cintaimu
Lepas Landas
Dan Pendaratan
Satu lagi cerita
tentang aku dan janjiku
Bandung, 15 Februari 2002
DAndaraga
Hasil On Line, 9 Feb `02
Terimakasih...
Aku lelah hadapi cerita
Dan kau beri sakit di dada
Apiku menyala segera!
Bandung, 15 Februari 2002
DAndaraga
SMS Pagi
Selamat Pagi!!! ^_^
Kuharap tiap hari adalah pagi
Dan kau selalu berseri
Layaknya pagi yang bermentari
Bandung, 15 Februari 2002
DAndaraga
Mimpi Itu
Aku mulai meragu
Pantaskah itu?
Ini tak seperti biasanya
Malam itu aku tersenyum
Kau hadir dalam mimpiku
terduduk di pojok kamar,
seperti biasanya
Seperti biasanya,
sebatang rokok berasap di jemari kananmu
Melayang haru,
itu tak seperti biasanya
Aku tak tahu
apa yang kala itu kupikirkan,
atau bahkan dalam benakku
Sekalipun, ini seperti biasanya
Dan mampu kudengar
kesanggupanmu tuk jadi kekasihku
pun hanya hati dan bukan raga
Aku tak peduli
Ini seperti dan tak seperti biasanya
Ah... Mimpi itu
Hanya sekepal bunga tidur
Bandung, 19 Februari 2002
DAndaraga
Mimpi Itu (Lagi...)
Yang kurasa ini bukan
atau hanya sekedar mimpi
Serasa jadi pemimpi kemudian pecundang
Suara itu amat jelas
dengan jelas hangatkan ruang jiwaku
Dalam mimpi semuanya mampu
termasuk dirimu dan segala tentangmu
Bandung, 20 Februari `02
DAndaraga
|
|